PEREMPUAN
TUA DAN PONSEL PINTARNYA
Dhevi Fitriyani
Untuk kesekian kalinya
kulihat perempuan tua itu duduk diteras rumahnya dengan tasbih ditangan dan ponsel
pintar dihadapannya. Sesekali ia melirik ponselnya untuk memastikan adakah
panggilan masuk atau sekedar pesan singkat yang yang dapat dibaca. Sepertinya
ia sedang menunggu telepon seseorang, namun entah siapa.
Wajahnya tak lepas
dari senyum keramahan tiap kali para tetangga melewati rumah sederhana bercat
putih bersih itu. Tak segan ia berbagi cerita dengan siapa saja yang
mengajaknya bercakap-cakap. Dari balik jendela kulihat ia begitu riang dan
antusias memperlihatkan foto-foto anak dan cucu yang ada dalam ponsel
pintarnya.
Bila rindunya membuncah pada mereka, ia cukup melihat
foto-foto mereka dalam ponsel pintarnya seperti yang diajarkan oleh Ahmad, anak
keduanya. “nanti kalau mak rindu sama kami tinggal pandangi saja foto-foto yang
sudah saya simpan dalam album ponsel ini, mak”, ucap Ahmad tempo hari. “bahkan
mak bisa ngobrol sama kami kapan saja mak mau, nih begini caranya….”. Dengan
telaten Ahmad mengajari ibunya cara menghubungi seseorang.
Bukan mengerti yang
mak Ijah dapatkan, melainkan puyeng,
lah wong otak sepuh kok disamakan sama anak zaman sekarang! Namun kata-kata itu
urung ia ucapkan dihadapan anaknya, cukup dalam hati saja. ia ingin anak-anak
tenang meninggalkannya dikampung. Bukankah dengan memberikan ponsel pintar
padanya, itu artinya mereka selalu berusaha ingin membahagiakannya? Memberikan
kemudahan kepadanya untuk bisa berkomunikasi dengan anak dan cucunya.
Bila rasa bosan
menyergapnya, ia pasti bertandang ke
rumah Mak Anah yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya. Tak lupa
tentunya dengan “benda keramat” yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Ia
masih terlihat bugar walau keriput diwajahnya tak dapat menyembunyikan usia
senjanya. Lagi-lagi, walau obrolan dengan sahabatnya membuat bahunya terguncang
karena terkekeh, namun hal itu tak membuat ia lupa untuk sesekali melirik
ponselnya.
Perempuan tua itu
sebenarnya tidak sebatang kara. Ia memiliki lima anak. Setelah kepergian suaminya lima belas tahun
yang lalu, ia harus banting tulang menyekolahkan anak-anaknya dengan hasil
jualan nasi kuning setiap pagi. Uang pensiunan suaminya sebagai seorang guru
agama tentu tidak cukup untuk mengantarkan kelima anaknya ke jenjang yang lebih
tinggi. Dengan kedisiplinan yang ia tanamkan kepada anak-anaknya, usaha yang
tiada mengenal lelah serta penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Maha Memberi,
membuat ia dan anak-anaknya dapat menjalankan skenario Tuhannya dengan baik. Ia
baru berhenti berjualan tiga tahun yang lalu, itupun karena dipaksa oleh
anak-anaknya ketika mereka terakhir kali dapat berkumpul pada lebaran Idul
Fitri.
Kerja kerasnya
membuahkan hasil. Kelima anaknya bisa dikatakan sukses. Aisyah, anak tertuanya kini
tinggal bersama suaminya di Jepang. Anak
keduanya, Ahmad, menetap di kota Metropolitan dan berprofesi sebagai dosen di
salah satu perguruan tinggi ternama. Sementara Rahma seorang desainer terkenal,
kini tinggal di Paris demi mengembangkan karirnya dibidang fashion. Anak
keempatnya, Fatih adalah seorang pengusaha batubara sukses di Merauke. Serta si
Bungsu Fatimah, adalah seorang bidan desa dan satu-satunya anak yang tinggal
bersamanya. Walau tidak satu rumah namun masih terbilang dekat, hanya terpaut
satu desa.
Berkali-kali
perempuan tua itu diajak untuk tinggal bersama keluarga kecil Fatimah. Namun perempuan
tua itu lebih memilih untuk tetap tinggal di rumahnya dengan alasan tak ingin
merepotkan anaknya. Kendati tak ada satupun dari kelima anaknya yang dapat
menemaninya, sepertinya ia sudah cukup
bahagia dikelilingi oleh saudara dan tentunya Mak Anah, satu-satunya sahabat
yang masih hidup. Tak jarang mereka membercandai keawetan usia senjanya.
“Jah, kira-kira siapa
ya diantara kita yang akan meninggal duluan?”
“Ya, kalau nggak
aku, ya kamu yang duluan,” Jawab Mak Ijah terkekeh.
“Kalau aku jadi
kamu, aku akan memilih untuk tinggal bersama anak-anak daripada harus tinggal
sendirian di desa. Kan enak bisa jalan-jalan ke luar negeri”. Mak Anah
mensejajari posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Mak Ijah.
“Loh? Siapa bilang
aku sendirian? Trus kamu siapa? Jurig
kitu?” canda Mak Ijah
“Ah kamu Jah, aku
serius nih! gimana coba nanti kalau kamu
meninggal di dalam rumah sementara tidak ada satu orangpun yang tahu,
kan bisa berabe urusannya.” Ucap Mak Anah masih dengan raut muka serius.
“Anah…Anah…Jodo, pati, bagja jeung cilaka mah anging Allah
anu ngatur, saya mah cuma bisa
berdoa supaya Allah memanggil saya dalam keadaan Husnul Khotimah. Tidak
merepotkan siapapun. Itu saja keinginan saya mah”. Dengan logat sunda yang kental Mak Ijah menepis kekhawatiran
sahabatnya.
*** *** ***
Jam menunjukan pukul tiga dini hari. Kendati Fatimah
menyetel ponselnya sebagai alarm, namun sepertinya Mak Ijah sudah dapat terjaga
dari mimpinya sebelum alarm itu berbunyi, semua karena terbiasa. Mak Ijah
bangun dari pembaringannnya. Untuk beberapa detik ia duduk dipinggir dipan lalu
melangkah menuju pancuran belakang rumah yang airnya mengalir langsung dari
mata air pegunungan. Terasa menggigil bagi yang belum biasa, namun bagi mak
Ijah, dinginnya air yang menyusup sampai ke tulang merupakan obat mujarab bagi
mata untuk terus terjaga melaksanakan qiyamullail. Berdialog dengan Sang Maha
Pemberi.
Adzan subuh
berkumandang, Mak Ijah bergegas pergi ke surau terdekat untuk ikut berjamaah. Setelah
tadarus Al-quran biasanya ia akan jalan-jalan menyusuri ladang dan sawah sambil
menghirup udara pagi dengan senyum mengembang. Namun, ada yang aneh untuk hari
ini. Selepas tadarus, badannya terasa lemah dan kepalanya sedikit lebih berat.
ia merebahkan kembali badannya diatas sajadah dengan tasbih dan ponsel pintar
disampingnya. Rindu pada anak-anaknya kian
membuncah, namun tak ada yang dapat ia lakukan selain membuka galeri ponsel dan
memandangi mereka satu persatu diiringi doa terbaik yang terus ia lafalkan di
mulutnya. Pluk! Ponsel pintar itu terjatuh menimpa wajahnya.
*** *** ***
“Kini tinggal aku, Jah, sendiri….”, ucap Mak Anah
penuh sendu memandangi foto sahabatnya. “Mak kalian itu hebat, ia sangat tidak
ingin merepotkan kalian walau sejenak. Kalian tahu, walau ponsel yang kalian
berikan itu selalu dibawa kemanapun ia pergi, itu bukan semata-mata untuk
pamer, ia hanya ingin manakala kalian menelepon mak selalu siap angkat telepon
kalian. Namun nyatanya berbulan-bulan tak ada satupun dari kalian yang membuat
ponselnya berdering. Mak kalian hanya ingin kapanpun dan dimanapun ia berada
akan merasa dekat walau hanya memandangi foto kalian dalam ponselnya”.
“Maafkan kami
maaaaak….”, jerit anak-anak mak Ijah tak terbendung lagi.
*** *** ***

Plot of the story is good and diction is too. The plot of the story doesn't dificult for we understand and diction doesn't either. The structure of this story is complete from the orientation complication reorientation and resolution.especially part complication, problem of the story is very close to life in the present day. So many people don't care with they parents and this story making the readers aware to always care to parents anytime
ReplyDeleteWindy fahira