DEAR
FRIEND….WHERE ARE YOU NOW??
Dhevi Fitriyani
Dhevi Fitriyani
“I would rather walk with a friend in the dark, than alone in the
light.”
(Helen Keller)
ARA!
hanya tiga rangkaian huruf yang masih melekat dalam memoriku, selebihnya,
kepalaku terasa penat mengingatnya. Mungkin aku termasuk teman yang tak tahu
diuntung, Namun, kemanakah hendak kusampaikan rasa terima kasihku ini?!
# # #
Perawakannya imut dan gempal, dengan tinggi
badan tak lebih dari 145 cm, kulit hitam manis, pipi chubby serta lesung pipi
yang menghias senyumnya. Itulah gambaranmu yang masih aku ingat. Namun, itu 14
tahun yang lalu. Sekarang?? Entahlah….sepertinya aku mulai putus asa mencari
keberadaanmu, Ara. Semua salahku!! Bermula dari hal sepele yang berakibat fatal
hingga membuat persahabatan kita retak bahkan hancur berkeping-keping.
Saat
itu, kami sama-sama tinggal di pondok pesantren khusus putri yang cukup
terkemuka, bahkan gaungnya sampai ke manca negara. Aku dan Ara dipersatukan
dalam asrama dan kelas yang sama. Tidak hanya itu, jika dilihat dari belakang,
dengan seragam dan jilbab yang sama, postur tubuh kami pun tiada bedanya! Tak
jarang, jika kami tidak sedang jalan bersama, orang lain salah panggil nama,
itu sudah biasa.
Berawal
dari persamaan itulah kita bisa saling curhat manakala ada hal sedih atau
gembira yang kita rasakan. Padahal, sebenarnya karakter kami berbeda, kamu yang
periang dan terkesan ekstrovert sedangkan aku yang pendiam dan pemalu. Namun
lebih dari itu, kita saling melengkapi. Kamu yang pintar bahasa Inggris dan aku
yang bisa diandalkan untuk minggu berbahasa Arab. Ya, aku sama sekali tidak
sanggup jika pada minggu bahasa inggris harus mengantri untuk mendapatkan jatah
makan di dapur umum santri, karena, dapat kupastikan kakak kelas akan menyapa
kami dengan bahasa Arab. Pun demikian dengan Ara, ia takkan cukup berani
membeli makanan ringan di koperasi santri pada minggu berbahasa Arab.
Hari
berganti bulan, bulan meninggalkan jejak hitungan tahun. Tak terasa satu tahun
sudah kami saling menggantungkan diri untuk beberapa hal terutama dalam hal
komunikasi. Kami terbuai dengan kenyamanan semu. Hingga akhirnya moment yang
kami khawatirkan itupun tiba. Aku dan kamu harus berbeda asrama dan pisah
kelas! Sudah merupakan tradisi tahunan pesantren untuk mengadakan rolling kelas dan asrama santrinya
dengan tujuan agar dapat membaur dengan sekian ratus santri dalam beberapa
angkatan yang ada di pesantren ini.
Walau
sudah berbeda asrama, namun ketergantungan kami agaknya belum mau berkurang.
Tepat disamping mading santri yang berada di depan masjid pesantren itulah
tempat kami saling menunggu pada jam makan tiba. Biasanya, aku pura-pura sedang
membaca tulisan-tulisan di mading jika tengah menunggunya.
Dua
bulan berlalu, kami masih bisa menikmati kebersamaan ini, namun pada bulan
ketiga di tahun kedua masa SMA ini, baik kamu ataupun aku sering terlambat ke
“tempat rahasia” kita. Ya, tempat rahasia! Karena hanya kau dan aku yang tahu.
Satu-dua
kali kami masih bisa saling maklum. Namun seiring dengan waktu, sepertinya kami
memiliki jadwal yang berbeda. Egoisnya, kamu dan aku tidak pernah
mengkomunikasikan hal ini! Rasa marah dan kecewa hanya dipendam masing-masing
dan aku tak tahu, ternyata kamu yang lebih sering menungguiku di tempat itu,
hingga tak jarang melewatkan makan siang demi menungguiku sampai tiba waktu
masuk kelas kembali.
Suatu
hari selepas solat ashar, kamu pura-pura tak melihatku manakala kita berpapasan
didepan kantin sekolah. Aku panggil namamu, tapi kamu bergegas meninggalkanku
tanpa sepatah katapun. Glek! Apa yang
terjadi? Cepat kusejajari langkahnya sambil terus kupanggil namanya. “Ara? Kamu
kenapa sih?”, tanyaku setengah berbisik seraya kutarik tangannya. Ara berbalik
dengan sorot mata tajam penuh amarah, “Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu
selalu meninggalkan aku untuk makan siang? Bukankah kesepakatan kita untuk
saling menunggu? Kalau memang sudah punya teman baru dan kamu udah nggak butuh
aku, ya sudah!! Cerocosnya dengan volume suara setengah ditekan khawatir ada
‘jasus’1 lewat.
“Ini
hanya salah faham, Ra”, ucapku mencoba menjelaskan.
“Alaaah…sudahlah.
Mulai saat ini kita masing-masing saja…aku juga bisa belajar Bahasa Arab tanpa
kamu!!
Dengan
setengah berlari, Ara bergegas pergi meninggalkanku
Walau
sedih, akan kubuktikan bahwa aku juga bisa hidup dengan bahasa inggris tanpamu,
Ara!
Mulai
hari itu, aku terus belajar, menghafal berbagai kosakata untuk digunakan
diberbagai tempat. Alhamdulillah, hasilnya tidak mengecewakan. Aku mulai berani
bercaka-cakap dengan kakak kelas -yang kadang mereka hanya menguji kemampuan
berbahasa adik kelasnya- bahkan, tak sedikit dari mereka yang menjadi spy1 bagi siapa saja yang
tidak memanfaatkan minggu berbahasa. Aku
juga mulai percaya diri untuk mengikuti lomba pidato bahasa inggris antar
angkatan. Kala itu, aku menjadi salah satu kontestan yang bersaing dengan Ara.
Walau kemenangan belum berpihak padaku, namun, aku cukup senang.
Hampir
satu tahun berlalu, aku dan Ara masih belum saling sapa. Walau sebenarnya
berbagai upaya sudah aku usahakan agar pertemanan kami membaik, hasilnya nihil.
Entah kekesalan Ara yang mana lagi yang membuat dia begitu membenci aku. Sudah
kucoba bertanya pada teman sebangku Ara, barangkali dia pernah curhat tentang
kekesalannya padaku, temannya bilang, Ara tidak pernah bercerita tentangku
bahkan dia selalu mengalihkan pembicaraan jika temannya mulai bertanya tentang
hal itu. Ujung-ujungnya, malah teman sebangkunya yang balik bertanya,
“sebenarnya ada masalah apa sih dengan kalian?” kunaikan dua bahu, dengan dua
telapak tangan terbuka serta alis yang terangkat, “entahlah…”
Tak
terasa, sudah dua kali perpindahan asrama yang diadakan rutin di pesantren
kami. Kini menginjak tahun ketiga, aku diberi amanah sebagai pengurus
Organisasi Santri di bagian Bahasa, sedangkan Ara di bagian Kepramukaan.
Intensitas pertemuan kami semakin berkurang seiring dengan kesibukan
masing-masing yang berbeda.
#
# #
Suatu hari ayahku datang menjenguk. Kali ini tanpa meminta
pendapatku, beliau memintaku untuk pindah ke pesantren milik uwa di kota udang. Padahal, masa studiku
hanya tinggal satu tahun lagi. Alasan finansial, begitu yang ayah ungkapkan.
Usaha sampingan ayah sepertinya harus gulung tikar, sementara gaji ayah sebagai
seorang PNS tak cukup untuk membiayai sekolahku dan dua adik kandungku di
sebuah pesantren modern yang berbeda. Belum lagi, ayah masih harus membiayai
tiga adik kandungnya yang masih kuliah. Maklum, ayah adalah sulung dari 13
bersaudara dan baru ayah saja yang bisa dikatakan sukses.
Dengan berat hati, demi baktiku pada orang tua, aku turuti
keinginan ayah. Pikiranku kalut, hingga tak sempat berpamitan pada Ara. Atau
sekedar say goodbye…bagaimanapun juga, kami pernah berteman baik.
Walau
terhitung hanya 8 bulan tercatat sebagai siswa kelas 3 Aliyah di sekolah yang
baru, alhamdulillah, aku bisa memberikan kenang-kenangan dua buah piala
kebanggan untuk sekolah ini. Aku, yang kala itu, sebenarnya siswa kelas 3
aliayah. Namun karena postur tubuhku yang mungil, masih bisa mengelabui mata
dewan juri kontes pidato bahasa inggris antar sekolah di tingkat kecamatan dan
kabupaten. Agaknya, bagian ini tidak perlu kuceritakan panjang lebar ya, malu!
Singkat
cerita, tiba waktu kelulusan. Aku dihadapkan pada berbagai pilihan jurusan di
perguruan tinggi. Kalau mengikuti keinginan, jujur, aku ingin menjadi perawat.
Namun apa daya, biaya kuliah di sekolah keperawatan sepertinya mustahil dapat
terpenuhi.
Mataku
terus menelusuri daftar nama jurusan pada kampus negeri yang kudambakan di kota
kembang. Entah mengapa, mataku langsung tertuju pada jurusan bahasa dan sastra
inggris. Sejenak aku teringat Ara…Sedang apakah kamu disana??
Empat
tahun berlalu, alhamdulillah aku dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan
nilai cukup memuaskan. Agar terus terasah naluri ke-bahasa inggrisanku, selama
kuliah aku pernah melanglang buana ke kampung inggris, Pare, sebuah desa di
kabupaten Kediri, Jawa Timur. Menjadi seorang guide dikala liburan panjang tiba, bukan lagi hal asing bagiku. Aku
juga menjadi staf pengajar di sebuah lembaga kursus Islami yang cukup terkenal
di kota kembang. Berbekal beberapa pengalaman mengajarku, ditambah dengan nilai
yang cukup memuaskan, tahun 2006, aku diterima sebagai asisten dosen di sebuah
perguruan tinggi swasta di kota nanas, kampung halamanku. Betapa senangnya,
terlebih bagi ayah dan ibuku.
Setelah
menikah, aku pindah ke kota angin, tempat suamiku bertugas. Satu tahun
kemudian, lahirlah jagoanku. Bersamaan dengan itu, akupun diterima sebagai staf
pengajar bahasa inggris di sebuah sekolah menengah atas di kota ini. Seiring
dengan perkembangan zaman, bahasa inggris dan komputer menjadi kemampuan utama
yang diperlukan. Berawal dari banyaknya permintaan, maka, kucoba membuka kursus
bahasa inggris untuk tingkat SD,SMP,SMA dan Umum…hasilnya, alhamdulillah tak
pernah sepi dari peminat.
Dalam
syukurku, kupanjatkan doa untuk sahabatku, Ara. Walau aku tak pernah tahu
dimana kamu kini berada. Semoga kamu selalu sehat, bahagia dan dalam lindungan Alloh
Yang Maha Kuasa. Kata-katamu yang mungkin tidak pernah kamu sadari -juga aku-
menjadi tamparan keras bagiku untuk bangkit dan membuktikan bahwa aku bisa!!!
Semoga ilmu yang pernah kamu tularkan untukku, menjadi amal jariyyah yang terus mengalir sampai
akhir hayat. Terima kasih atas semua kebaikan yang pernah kamu berikan untuku,
hanya Alloh yang dapat membalasnya.
Dilatasi
Memory, penghujung tahun 2016

This is a good story and I love this story from its written language, and so do me motivated and my friend too . i can understand every reading and interesting for read about, friend possible can't forget and this story very sad moment the friend begin changed
ReplyDeleteMoch Gilang Jauhari
This is a good story and I love this story from its written language, and so do me motivated and my friend too . i can understand every reading and interesting for read about, friend possible can't forget and this story very sad moment the friend begin changed
ReplyDeleteMoch Gilang Jauhari
This comment has been removed by the author.
ReplyDeletei like this story. the language makes the readers into the story and the plot is too. little child can read this story. the story teaches readers to solve the problem with the open minded and must husnuzon to best friend. but in the fourth paragraph it seems there is a typing error should the class sister greeted with English in the kitchen, because the writer does not speak english in the kitchen because the expert writers speak Arab so he needs his best friend for speak with class sister
ReplyDeleteWindy fahira
Delete