Monday, November 6, 2017

Dear Mantan

DIARY BIRU
Dhevi Fitriyani

          “Bruk!!”
“Awww!!”, kuusap-usap kepalaku.
 Masih dengan rasa sakit yang tersisa, kucoba mencari benda yang menimpa kepalaku tadi. Dengan dahi mengeryit, mata menyipit serta ingatan yang melayang menuju moment 14 tahun silam, kucoba membuka lembar demi lembar diary biru itu.
Disampul depan terpampang fotoku dengan pose yang sedikit norak untuk ukuran anak jaman sekarang. Dengan kepala mengahadap ke kamera, tubuh sedikit menyerong serta satu jari diletakan dipipi. Sungguh, itu foto terbaikku saat itu. Tak kuasa aku tersenyum mengingatnya. Sementara fotomu terpampang disampul buku bagian belakang. Dengan latar gradasi warna pelangi dan taburan bintang, posemu tak jauh berbeda dengan poseku, hanya bedanya, tangan kananmu tetap tegap bertumpu diatas tangan kirimu. Ah…benar-benar pose yang sedang ngetren pada zamannya.
Terlihat jelas betapa tegangnya gayamu dalam foto itu. Kamu bilang, jika pengambilan gambarnya diulang berkali-kali sampai hampir saja kamu mengurungkan niat untuk difoto. Tapi demi aku, kamu rela mengikuti arahan kameramen genit di studio foto terbesar di kota kita. Saat itu, tak kuasa aku menahan senyum hingga terbahak lepas sementara kamu merengut. Setelah puas tertawa, kujawil pipimu gemas. Kau rangkul aku dan kita jalan bersama dengan tawa berderai.
Diary biru ditangaku masih tetap bersih dengan warna sedikit pudar dimakan usia. Aku hampir tak pernah menyentuh diary ini semenjak putus denganmu. Namun entah mengapa, moment libur panjang anak-anak di rumah orang tuakulah yang menuntunku ke tempat ini. Ya, tempat dimana terdapat sebuah lemari buku tua yang terletak di pojok kamarku ini. Nyaris tak pernah kusentuh, bukan tak ingin, namun tak sempat.

Mas Braga…lelaki yang pernah menjadi cinta monyetku. Lelaki pendiam namun memiliki sikap tegas, yang pernah mengisi hari-hari indahku di masa putih abu-abu. Masih ingatkah kamu betapa sering kita habiskan waktu bersama di atas batu pinggir danau. Kita bercerita banyak hal tentang teman-teman, guru bahkan anak baru yang pernah menyatakan cintanya padaku. Kamu cemberut, namun dengan tegas kukatakan bahwa hanya kamu satu-satunya dihatiku…ahhh gombal yang indah!!
Kamu menjadi spirit booster buatku. Semangat belajarku sering berada pada titik nadir dan kamu tak pernah bosan memompanya kembali. Pembawaanmu yang kalem, tenang, dewasa dan bersahaja, mampu membuatku tunduk pada nasihatmu yang selalu terasa menyejukan.  Mungkin itu sebabnya, aku selalu merasa nyaman disampingmu.
Ketika tiba waktu wisuda kelulusan SMA, tak dapat kupungkiri rasa sedih yang kurasakan. Kamu dan aku harus berpisah. Aku melanjutkan kuliah di kota pelajar sedangkan kamu, karena keterbatasan finansial orang tua, lebih memilih untuk bekerja dan melanjutkan kuliah mungkin dua tahun kedepan di kota metropolitan.
Jarak, tempat dan waktu kan menjadi teman setia yang memisahkan kita. Namun demi cita-cita dan masa depan yang cerah, kita hadapi dengan saling menguatkan. “perpisahan ini hanya sementara, kita akan disatukan dalam ikatan cinta yang halal dalam kesuksesan yang diraih setelah kita bahagiakan kedua orang tua kita. Kita harus kuat, kita harus sabar”. Kata-kata itulah yang menjadi penyemangat belajarku demi meraih cita dan cinta.
Hari-hari tanpamu, kucurahkan rasa rindu ini pada diary biru bergambarkan sekuntum bunga mawar merah. Dengan tulisan LOVE berbingkai hati di sudut kanan buku. Karikatur sepasang kekasih yang tengah saling berpelukan menambah romantisnya diary biru dalam genggamanku. Hanya dia yang sanggup mendengar gaungan rasa rindu yang membuncah padamu.
Awalnya, komunikasi  antara kamu dan aku masih dirasa lancar. Namun ditahun kedua, sepertinya tugas kuliah yang seakan tak ada hentinya mampu membuat intensitas komunikasi kita agak merenggang. Jujur, sebenarnya bukan itu satu-satunya alasanku menjaga jarak darimu. Hatiku mulai diranumi dengan kuncup-kuncup merah jambu pada lelaki yang setiap hari kutemui di ruang ekstrakulikuler kesenian. Dia yang telah mencuri hatiku, mengajaku melambung ke angkasa menikmati indahnya kebersamaan. Hingga membuat hayalku disela kesibukan kuliah hanya dipenuhi oleh Haris, si anak band. Lelaki yang mampu mengalihkan perhatianku darimu. Perhatian, keromantisan serta tampilan “macho” dengan rambut sebatas bahu, kulit putih bersih dan perawakan atletis, mampu meberikan semangat baru yang mulai redup.
Beberapa kali ku rejeck telepon darimu, bahkan membalas sms pun sebenarnya hal yang paling malas kulakukan. “maaf ya, tadi malem aku ketiduran, capek banget, tugas numpuk”. Itulah jurus pamungkas nan ampuh yang selalu kugunakan untuk membalas puluhan sms darimu yang penuh perhatian. Jika dulu aku yang biasanya marah ketika sehari saja tidak ada satupun sms darimu, namun kini perhatian itu menjadi hal yang memuakan bagiku. Dan lagi-lagi, kamu tidak marah. Hanya sebaris kata, “Gak apa-apa de, mas ngerti kok.”
          Hingga akhirnya aku tak sanggup lagi memendam rasa sebal atas perhatian yang kamu berikan untukku. Ironi memang, tapi itulah yang aku rasakan saat itu. Jauh dilubuk hatiku, akupun merasa aneh pada perasaanku ini, ada rasa bersalah terselip disana namun sepertinya aku tak bisa membohongi diri sendiri. Menjadi pendengar segudang aktifitasmu di tempatmu bekerja seolah menjadi moment membosankan bagiku. Sejak hatiku berpaling darimu, malas rasanya berlama-lama ngobrol di telepon. Komunikasi seakan hanya berjalan satu arah, karena aku memposisikan diri hanya sebagai pendengar.
          Malam itu, 8 September 2003, kuberanikan diri untuk mengatakannya padamu. “Mas, sepertinya kita harus break dulu, banyak projek kuliah yang harus aku selesaikan dan aku takut nggak bisa bagi perhatian sama kamu. Kita jalan masing-masing dulu ya.”
“Oh…” desismu tanpa dapat menyembunyikan keterkejutanmu. “sesibuk itukah kamu?” tanyanya kemudian. Satu pertanyaan menohok. “mmm..ya, aku takut tidak bisa membagi waktu.” Jawabku mencoba dibuat setenang mungkin, walau pada kenyataannya tetap saja terdengar kikuk. Hening….Tidak banyak kata yang terlontar darimu, hanya satu ungkapan dengan nada suara berat. Diawali dengan tarikan nafas panjang, lalu kamu bilang, “baiklah, kalau itu memang maumu dan itu membuat kamu nyaman. Aku akan mencintaimu dan selalu menunggumu.”
          Kala itu, ucapanmu tak begitu berarti bagiku, karena fikiranku sudah habis tertumpu pada dia si anak band. Padahal, bila dicerna lebih dalam, begitu bijaknya kamu. Sekalipun kamu masih mencintaiku, tak sedikitpun kamu memaksakan kehendakmu dan mendebatku mencari jawaban jujur atas pengkhianatanku.
Ternyata cintaku tak abadi bersama Haris. Kami sama-sama terlalu egois dan keras kepala. Aku mulai membandingkan kamu dan dia. Kamu yang penyabar, lemah lembut dan mampu memadamkam sifatku yang sering menggebu-gebu. Ah…ada rasa menyesal menyelusup dalam kalbu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, waktu tak dapat terulang kembali. Lagi pula, kamu mungkin sudah punya penggantiku. Mungkin Tuhan sedang mengabulkan perkataanku tempo hari yang kugunakan sebagai senjata agar aku bisa putus dari kamu, aku ingin fokus belajar!
Baik Tuhan…akan kugunakan kesempatan yang  Kau berikan untuk benar-benar fokus merampungkan masa kuliahku tepat waktu. Tanpa harus bergulat dengan hati si merah jambu. Walau pada kenyataannya, Aldo, Doni dan Bastian pernah datang dan pergi menawarkan kebahagian untukku.
Dengan titel sarjana yang kuraih, aku mencoba peruntungan dengan bekerja di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Mendengar nama ibu kota, dalam ingatanku sempat hilir mudik memori tentangmu, namun sekuat mungkin kutepis jauh-jauh. Seakan mustahil di kota sebesar Jakarta, aku bisa bertemu denganmu. Rasa gengsiku mengalahkan rasa penasaranku tentang kabarmu.  Namun, malam itu, selepas training sebagai karyawan baru di perusahaan asing tempatku bekerja, hujan lebat, jarum jam menunjukan pukul 09.00, keadaan jalan sudah mulai sepi. Aku terpaku berdiri termangu di halte bis sendirian menunggu taksi yang tak kunjung datang. Sementara di halte sebrang jalan, terdengar jelas derai tawa yang berkejaran dengan suara guntur dikeheningan malam keluar dari mulut para lelaki yang masih asyik nongkrong berkerumun. Entah apa yang mereka lakukan. Dalam kekalutan dan ketakutan, aku berusaha mencari nomor ponsel teman-temanku di Jakarta, barangkali saja ada yang mau berbaik hati menjemputku di sini. Mataku tertumpu pada namamu dan nomor ponsel yang entah masih aktif atau tidak. Sisi hatiku mengatakan pantang bagiku untuk menghubungimu lebih dulu. Namun sepertinya rasa takutku mengalahkan pertahanan tembok gengsi yang selama ini bersarang dihatiku.
 Ragu menyergap, namun keadaan yang semakin menecekam membuat kekuatanku terkumpul untuk menekan tombol nomor ponselmu. Terpaksa kusingkirkan sejenak keegoisanku, “Alhamdulillah masih aktif”, desisku. Dengan nada kalut campur takut kujelaskan keadaanku saat ini. Tanpa membuang waktu, kamu bersedia untuk menjemputku.
Setelah pertemuan malam itu, kami mulai rutin lagi menjadwalkan pertemuan-pertemuan berikutnya.  Entah untuk makan siang bersama atau hanya sekedar menghabiskan waktu luang berdua. Kita saling bertukar cerita tentang empat tahun menjalani hari-hari di kota yang berbeda.
Karena intensitas pertemuan yang berulang-ulang itulah kita semakin akrab. Hingga tanpa kita sadari, benih-benih cinta kembali tumbuh diantara kita. Hatiku meleleh..
Dua tahun dalam kebersamaan di kota Metropolitan, akhirnya kamu melamarku. Dua jagoan yang sehat, lucu dan menggemaskan kini telah hadir diantara kita, menambah kebahagiaan keluarga kecil kita.
Mas Braga…dari sekian langkah yang pernah kita lalui bersama, kaulah yang terbaik untukku. Hingga perpisahan kita tak mampu memisahkan dua hati yang pernah saling mengasihi. Dari sekian nama yang pernah berlabuh di hati ini, hanya kau yang mampu menggetarkan jiwa. Pun demikian denganmu. Setelah aku putuskan dirimu, ada deretan nama perempuan yang berhasil mencuri hatimu. Namun, Tuhan telah menakdirkan bagimu, bahwa akulah tulang rusukmu. Terima kasih telah memahamiku lahir dan batin. Aku berharap kamulah cinta pertama dan terakhirku. Semoga…


No comments:

Post a Comment