DIARY
BIRU
Dhevi Fitriyani
“Bruk!!”
“Awww!!”, kuusap-usap kepalaku.
Masih
dengan rasa sakit yang tersisa, kucoba mencari benda yang menimpa kepalaku
tadi. Dengan dahi mengeryit, mata menyipit serta ingatan yang melayang menuju
moment 14 tahun silam, kucoba membuka lembar demi lembar diary biru itu.
Disampul depan terpampang fotoku dengan pose
yang sedikit norak untuk ukuran anak jaman sekarang. Dengan kepala mengahadap
ke kamera, tubuh sedikit menyerong serta satu jari diletakan dipipi. Sungguh,
itu foto terbaikku saat itu. Tak kuasa aku tersenyum mengingatnya. Sementara fotomu
terpampang disampul buku bagian belakang. Dengan latar gradasi warna pelangi
dan taburan bintang, posemu tak jauh berbeda dengan poseku, hanya bedanya,
tangan kananmu tetap tegap bertumpu diatas tangan kirimu. Ah…benar-benar pose
yang sedang ngetren pada zamannya.
Terlihat jelas betapa tegangnya gayamu dalam
foto itu. Kamu bilang, jika pengambilan gambarnya diulang berkali-kali sampai
hampir saja kamu mengurungkan niat untuk difoto. Tapi demi aku, kamu rela
mengikuti arahan kameramen genit di studio foto terbesar di kota kita. Saat
itu, tak kuasa aku menahan senyum hingga terbahak lepas sementara kamu merengut.
Setelah puas tertawa, kujawil pipimu gemas. Kau rangkul aku dan kita jalan
bersama dengan tawa berderai.
Diary biru ditangaku masih tetap bersih dengan
warna sedikit pudar dimakan usia. Aku hampir tak pernah menyentuh diary ini
semenjak putus denganmu. Namun entah mengapa, moment libur panjang anak-anak di
rumah orang tuakulah yang menuntunku ke tempat ini. Ya, tempat dimana terdapat
sebuah lemari buku tua yang terletak di pojok kamarku ini. Nyaris tak pernah
kusentuh, bukan tak ingin, namun tak sempat.
Mas Braga…lelaki yang pernah menjadi cinta
monyetku. Lelaki pendiam namun memiliki sikap tegas, yang pernah mengisi
hari-hari indahku di masa putih abu-abu. Masih ingatkah kamu betapa sering kita
habiskan waktu bersama di atas batu pinggir danau. Kita bercerita banyak hal tentang
teman-teman, guru bahkan anak baru yang pernah menyatakan cintanya padaku. Kamu
cemberut, namun dengan tegas kukatakan bahwa hanya kamu satu-satunya
dihatiku…ahhh gombal yang indah!!
Kamu menjadi spirit booster buatku. Semangat
belajarku sering berada pada titik nadir dan kamu tak pernah bosan memompanya
kembali. Pembawaanmu yang kalem, tenang, dewasa dan bersahaja, mampu membuatku
tunduk pada nasihatmu yang selalu terasa menyejukan. Mungkin itu sebabnya, aku selalu merasa nyaman
disampingmu.
Ketika tiba waktu wisuda kelulusan SMA, tak
dapat kupungkiri rasa sedih yang kurasakan. Kamu dan aku harus berpisah. Aku melanjutkan kuliah di kota pelajar
sedangkan kamu, karena keterbatasan finansial orang tua, lebih memilih untuk
bekerja dan melanjutkan kuliah mungkin dua tahun kedepan di kota metropolitan.
Jarak, tempat dan waktu kan menjadi teman setia
yang memisahkan kita. Namun demi cita-cita dan masa depan yang cerah, kita
hadapi dengan saling menguatkan. “perpisahan ini hanya sementara, kita akan
disatukan dalam ikatan cinta yang halal dalam kesuksesan yang diraih setelah
kita bahagiakan kedua orang tua kita. Kita harus kuat, kita harus sabar”. Kata-kata
itulah yang menjadi penyemangat belajarku demi meraih cita dan cinta.
Hari-hari tanpamu, kucurahkan rasa rindu ini pada
diary biru bergambarkan sekuntum bunga mawar merah. Dengan tulisan LOVE
berbingkai hati di sudut kanan buku. Karikatur sepasang kekasih yang tengah
saling berpelukan menambah romantisnya diary biru dalam genggamanku. Hanya dia
yang sanggup mendengar gaungan rasa rindu yang membuncah padamu.
Awalnya, komunikasi antara kamu dan aku masih dirasa lancar. Namun
ditahun kedua, sepertinya tugas kuliah yang seakan tak ada hentinya mampu
membuat intensitas komunikasi kita agak merenggang. Jujur, sebenarnya bukan itu
satu-satunya alasanku menjaga jarak darimu. Hatiku mulai diranumi dengan
kuncup-kuncup merah jambu pada lelaki yang setiap hari kutemui di ruang
ekstrakulikuler kesenian. Dia yang telah mencuri hatiku, mengajaku melambung ke
angkasa menikmati indahnya kebersamaan. Hingga membuat hayalku disela kesibukan
kuliah hanya dipenuhi oleh Haris, si anak band. Lelaki yang mampu mengalihkan
perhatianku darimu. Perhatian, keromantisan serta tampilan “macho” dengan rambut
sebatas bahu, kulit putih bersih dan perawakan atletis, mampu meberikan
semangat baru yang mulai redup.
Beberapa kali ku rejeck telepon darimu, bahkan membalas sms pun sebenarnya hal yang
paling malas kulakukan. “maaf ya, tadi malem aku ketiduran, capek banget, tugas
numpuk”. Itulah jurus pamungkas nan ampuh yang selalu kugunakan untuk membalas
puluhan sms darimu yang penuh perhatian. Jika dulu aku yang biasanya marah
ketika sehari saja tidak ada satupun sms darimu, namun kini perhatian itu menjadi
hal yang memuakan bagiku. Dan lagi-lagi, kamu tidak marah. Hanya sebaris kata,
“Gak apa-apa de, mas ngerti kok.”
Hingga akhirnya aku
tak sanggup lagi memendam rasa sebal atas perhatian yang kamu berikan untukku. Ironi
memang, tapi itulah yang aku rasakan saat itu. Jauh dilubuk hatiku, akupun
merasa aneh pada perasaanku ini, ada rasa bersalah terselip disana namun
sepertinya aku tak bisa membohongi diri sendiri. Menjadi pendengar segudang
aktifitasmu di tempatmu bekerja seolah menjadi moment membosankan bagiku. Sejak
hatiku berpaling darimu, malas rasanya berlama-lama ngobrol di telepon.
Komunikasi seakan hanya berjalan satu arah, karena aku memposisikan diri hanya
sebagai pendengar.
Malam
itu, 8 September 2003, kuberanikan diri untuk mengatakannya padamu. “Mas,
sepertinya kita harus break dulu, banyak
projek kuliah yang harus aku selesaikan dan aku takut nggak bisa bagi perhatian
sama kamu. Kita jalan masing-masing dulu ya.”
“Oh…” desismu tanpa dapat menyembunyikan
keterkejutanmu. “sesibuk itukah kamu?” tanyanya kemudian. Satu pertanyaan
menohok. “mmm..ya, aku takut tidak bisa membagi waktu.” Jawabku mencoba dibuat
setenang mungkin, walau pada kenyataannya tetap saja terdengar kikuk. Hening….Tidak
banyak kata yang terlontar darimu, hanya satu ungkapan dengan nada suara berat.
Diawali dengan tarikan nafas panjang, lalu kamu bilang, “baiklah, kalau itu
memang maumu dan itu membuat kamu nyaman. Aku akan mencintaimu dan selalu
menunggumu.”
Kala itu, ucapanmu
tak begitu berarti bagiku, karena fikiranku sudah habis tertumpu pada dia si
anak band. Padahal, bila dicerna lebih dalam, begitu bijaknya kamu. Sekalipun
kamu masih mencintaiku, tak sedikitpun kamu memaksakan kehendakmu dan
mendebatku mencari jawaban jujur atas pengkhianatanku.
Ternyata cintaku tak abadi bersama Haris. Kami
sama-sama terlalu egois dan keras kepala. Aku mulai membandingkan kamu dan dia.
Kamu yang penyabar, lemah lembut dan mampu memadamkam sifatku yang sering
menggebu-gebu. Ah…ada rasa menyesal menyelusup dalam kalbu. Tapi nasi sudah
menjadi bubur, waktu tak dapat terulang kembali. Lagi pula, kamu mungkin sudah
punya penggantiku. Mungkin Tuhan sedang mengabulkan perkataanku tempo hari yang
kugunakan sebagai senjata agar aku bisa putus dari kamu, aku ingin fokus
belajar!
Baik Tuhan…akan kugunakan kesempatan yang Kau berikan untuk benar-benar fokus
merampungkan masa kuliahku tepat waktu. Tanpa harus bergulat dengan hati si
merah jambu. Walau pada kenyataannya, Aldo, Doni dan Bastian pernah datang dan
pergi menawarkan kebahagian untukku.
Dengan titel sarjana yang kuraih, aku mencoba
peruntungan dengan bekerja di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Mendengar
nama ibu kota, dalam ingatanku sempat hilir mudik memori tentangmu, namun
sekuat mungkin kutepis jauh-jauh. Seakan mustahil di kota sebesar Jakarta, aku
bisa bertemu denganmu. Rasa gengsiku mengalahkan rasa penasaranku tentang
kabarmu. Namun, malam itu, selepas
training sebagai karyawan baru di perusahaan asing tempatku bekerja, hujan
lebat, jarum jam menunjukan pukul 09.00, keadaan jalan sudah mulai sepi. Aku
terpaku berdiri termangu di halte bis sendirian menunggu taksi yang tak kunjung
datang. Sementara di halte sebrang jalan, terdengar jelas derai tawa yang
berkejaran dengan suara guntur dikeheningan malam keluar dari mulut para lelaki
yang masih asyik nongkrong berkerumun. Entah apa yang mereka lakukan. Dalam
kekalutan dan ketakutan, aku berusaha mencari nomor ponsel teman-temanku di Jakarta,
barangkali saja ada yang mau berbaik hati menjemputku di sini. Mataku tertumpu
pada namamu dan nomor ponsel yang entah masih aktif atau tidak. Sisi hatiku
mengatakan pantang bagiku untuk menghubungimu lebih dulu. Namun sepertinya rasa
takutku mengalahkan pertahanan tembok gengsi yang selama ini bersarang
dihatiku.
Ragu
menyergap, namun keadaan yang semakin menecekam membuat kekuatanku terkumpul
untuk menekan tombol nomor ponselmu. Terpaksa kusingkirkan sejenak keegoisanku,
“Alhamdulillah masih aktif”, desisku. Dengan nada kalut campur takut kujelaskan
keadaanku saat ini. Tanpa membuang waktu, kamu bersedia untuk menjemputku.
Setelah pertemuan malam itu, kami mulai rutin lagi
menjadwalkan pertemuan-pertemuan berikutnya.
Entah untuk makan siang bersama atau hanya sekedar menghabiskan waktu
luang berdua. Kita saling bertukar cerita tentang empat tahun menjalani
hari-hari di kota yang berbeda.
Karena intensitas pertemuan yang berulang-ulang
itulah kita semakin akrab. Hingga tanpa kita sadari, benih-benih cinta kembali
tumbuh diantara kita. Hatiku meleleh..
Dua tahun dalam kebersamaan di kota Metropolitan,
akhirnya kamu melamarku. Dua jagoan yang sehat, lucu dan menggemaskan kini telah
hadir diantara kita, menambah kebahagiaan keluarga kecil kita.
Mas Braga…dari sekian langkah yang pernah kita lalui
bersama, kaulah yang terbaik untukku. Hingga perpisahan kita tak mampu
memisahkan dua hati yang pernah saling mengasihi. Dari sekian nama yang pernah berlabuh
di hati ini, hanya kau yang mampu menggetarkan jiwa. Pun demikian denganmu. Setelah
aku putuskan dirimu, ada deretan nama perempuan yang berhasil mencuri hatimu.
Namun, Tuhan telah menakdirkan bagimu, bahwa akulah tulang rusukmu. Terima
kasih telah memahamiku lahir dan batin. Aku berharap kamulah cinta pertama dan
terakhirku. Semoga…

No comments:
Post a Comment