Monday, November 6, 2017

Dear Allah

JUST A MATTER OF TIME

Oleh : Dhevi Fitriyani

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Inilah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran : 14)

          Anak adalah salah satu perhiasan dunia. Walaupun kehadiran anak bukanlah segalanya dalam kehidupan, namun anugerah anak dapat menjadi penentu kelak di yaumil hisab: surga atau neraka. Tergantung amal yang sudah dilakukan ketika di dunia.

Kegelisahan dan Penghianatan
          Tidak ada niatan sedikitpun untuk menunda memiliki keturunan. Namun kiranya Allah berkehendak lain. Dia menguji kami dari arah ini. Karena jika direnungi, alhamdulillah tidak ada yang kurang dalam kehidupan kami. Keluarga yang sekufu, Pekerjaan yang mapan, rumah dan kendaraan pribadi semuanya sudah kami miliki.
Namun tunggu punya tunggu, setahun pernikahan sudah berlalu, keturunan yang kami nantikan belum juga terlihat tanda-tandanya. Kamipun melakukan serangkaian pemeriksaan. Dan alhamdulillah  hasilnya kami dinyatakan sehat. Kehidupanpun berjalan seperti biasanya. Kami larut dalam kesibukan pekerjaan masing-masing.
Dua tahun berlalu, kehampaan itu semakin terasa seiring dengan pertanyaan keluarga, sahabat, tetangga dan rekan kerja, “kapan nih punya momongan?”. Dilain waktu pertanyaan lain muncul, “ikut KB ya? Kok belum hamil juga?”, bug!! Rasanya ada yang menohok dalam dada. Belum lagi kalimat-kalimat yang mampir di telinga suamiku, “lo laki bukan sih? Kok bini lo belon juga bunting?”, ah…kalimat yang mungkin biasa bagi yang lain, tapi menyayat bagi kami, terutama aku.
Ya, aku yang sering meneteskan air mata bahkan nangis bombay, terlebih jika tamu bulanan sedang datang. Aku yang sering meninggalkan sesuap nasi demi membenamkan isakku dalam bantal. Aku yang sering menghabiskan hari-hari membayangkan masa depan tanpa keturunan. Dan aku juga yang sering mendesak mas Fahmi untuk sama-sama pergi memeriksakan ke dokter kandungan.
Kegelisahan mulai semakin sering menghampiri kami hingga keputusan untuk memeriksakan kembali menjadi pilihan. Kali ini dokter menyarankan saya untuk melakukan HSG sedangkan suami melakukan uji ketahanan sperma. Hasil HSG menunjukan jika saluran tuba sebelah kiriku dinyatakan non patent. Dokter mengatakan bahwa itu artinya terdapat sumbatan pada tuba sebelah kiriku. Kepala rasanya seperti digodam palu, kaki serasa tak berpijak. Lemas…
Untuk beberapa bulan  aku dirundung sendu. Sebagai wanita normal, rasanya aku hilang harapan untuk dapat memiliki kebahagiaan merasakan kehamilan, melahirkan dan memiliki anak dari rahimku sendiri. Aku menarik diri dari riuh kehidupan. Senyum dan keceriaanku pudar seiring dengan menyusutnya berat badanku. Bertubi-tubi kepahitan yang kujalani. Ditengah frustasiku memikirkan nasib diriku kedepan, suami terbuai dengan kisah asmara masa lalunya. Cinta lama yang yang belum kelar mulai terajut selepas reuni SMA dua bulan sebelumnya. Intensitas komunikasi mereka semakin lekat. Benarkah cinta suami hanya sebatas memiliki anak? Hingga ia tega mencampakkanku begitu saja. Ah…semakin aku mengira-ngira, semakin hilang kewarasanku. Dan akupun tumbang…
Untuk beberapa saat aku menenangkan diri di rumah orang tuaku. Kepalaku semakin terasa sakit, air mata menganak sungai. Aku mengurung diri dalam kesendirian dan kesedihan. Ya Allah, mengapa cobaan-Mu ini datang menimpaku secara bertubi-tubi? Mengapa Engkau berikan cobaan yang begitu berat untukku? Apakah Engkau tidak menyayangiku? lirih batinku.
Aku begitu rapuh hingga bisikan-bisikan setan selalu mengarahkanku untuk berburuk sangka. Beberapa kali suami datang memintaku untuk kembali ke rumah kami namun hatiku terlanjur sakit, menemuinyapun aku tak sudi. Aku semakin menghakimi diri sebagai wanita mandul!!
Hanya ayah dan ibu tempatku menumpahkan segalanya. Hanya dengan mereka aku mau berkomunikasi. Tak henti ayah memberikan kekuatan dari kisah kesabaran Nabi Zakaria untuk mendapatkan keturunan. Rengekan doa-doa yang ia pinta pada rabbnya tanpa kenal lelah “Robbi  habli min ladunka dzurriyyatan thoyibah, innaka sami’u du’a”. Ya Tuhanku , berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa”. (Q.S. Ali Imran ayat 38)
Beliau mengingatkanku untuk tidak berprasangka buruk pada Allah sebab Allah akan bertindak sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Begitu juga dengan ibu. Belaiannya mampu menguatkan setiap keterpurukanku, untaian katanya merangkum do’a bak oase ditengah gurun tandus, ada kekuatan dalam setiap rangkai ucapnya. Dan aku pasti terhipnotis. Walau aku tahu, tentu ia lebih sedih melampaui sedih yang kurasakan. Dan aku tahu, ada tetes di sudut matanya yang indah walau selalu senyum yang terpancar dari wajahnya.  “Ndo, kaget, kecewa dan merasa rapuh memang manusiawi. Tapi jangan terlalu berlarut sayang. Kamu berhak nak untuk menumpahkan segala rasa yang kau pendam, namun jangan berlebihan.  Karena Allah tidak suka terhadap sesuatu yang berlebihan”.
Setelah dua hari aku mengurung diri di kamar dengan makanan yang terpaksa masuk mulut karena suapan sang bunda, disertai dengan kisah kekuatan wanita-wanita tangguh di zaman Nabi, hari ini aku mulai beraktifitas diluar kamar. Aku menemani ibu mengiris bawang dan memotong sayur mayur di dapur. Kulihat pancaran gembira dari wajah ayah dan ibu.
“Ndo, Allah telah memberikan begitu banyak nikmat padamu, bahkan kenikmatannya tak dapat kau hitung dengan jarimu sendiri. Kenikmatan yang melekat dalam tubuhmu saja sudah tak terhitung jumlahnya. Tubuhmu sehat sempurna, nikmat udara yang dapat kau hirup juga gratis. Mata dapat meihat keindahan alam raya ini, tangan sempurna dapat menggenggam. Kaki yang dapat berjalan tanpa harus menggunakan alat bantu. Apakah Allah memintamu untuk membayar semua kenikmatan itu?”
Glek!! kutelan ludah, getir.
Dalam sujud panjang shalat dzuhur hari ini, air mataku kembali menganak sungai. Namun tangisan kali ini bukan tangisan kekecewaanku pada takdir yang Allah berikan, melainkan tangisan penyesalan dan rasa maluku pada rabbku yang telah memberikan segalanya yang kumiliki tanpa kupinta. Lalu, mengapa aku harus marah pada Sang Pemberi untuk satu hal saja yang tidak aku miliki? Mengapa aku selama ini hanya fokus pada keinginanku dan mengabaikan beribu kenikmatan yang telah kunikmati? Robbighfirlii...

Kehidupan Kedua
          Satu minggu berlalu, mas Fahmi kembali datang ke rumah orang tuaku dengan maksud menjemputku. Walau masih ada sepercik rasa benci, namun berkat kekuatan yang ayah dan ibu alirkan, kutemui juga lelaki yang kini masih sah menjadi suamiku.
          Kuambil posisi duduk bersebelahan dengan kursi mas Fahmi, tentu dengan kursi yang berbeda. Sengaja kulakukan agar aku bisa menetralisir rasaku, menyeimbangkan emosiku dan mengatur nafasku.
          Sedetik kemudian mas Fahmi tersungkur membenamkan kepalanya dalam pangkuanku seraya menangis sejadinya. “sungguh Fira, maafkan kesalahanku, maafkan aku…maafkan aku…aku khilaf, hukum aku sesukamu namun jangan kau tinggalkan aku. Aku semakin sadar ternyata aku tak dapat hidup tanpamu”. Semakin erat genggamannya menggenggam tanganku.
          Tak kuasa tumpah juga pertahananku. Bahuku berguncang menahan buncahan rasa. Kubelai rambutnya. Tak dapat kupungkiri aku juga tak dapat hidup tanpanya. Kualirkan maafku pada kekar bahunya yang berguncang. Untuk beberapa lama kami saling mengalirkan kekuatan dan kepercayaan.
          Selalu ada hikmah dibalik semua kejadian. Selepas badai dalam rumah tangga yang kami rasakan, Allah memberikan kenikmatan yang berlipat-lipat. Kami, terutama aku, tidak lagi menyesali takdir-Nya. Aku tidak lagi terlalu fokus pada keinginan satu titik yang belum juga kugapai, kucoba menjalani hidup yang Allah berikan dengan sepenuh kesyukuran, enjoy, happy…
          Kami merasakan kehidupan pernikahan seperti pertama kali bertemu. Mencoba menumbuhkan kembali benih-benih cinta yang pernah dirasakan di awal pernikahan. Menjalani dan menikmati kebersamaan dalam setiap kesempatan. Mencoba  membenambamkan kembali dalam kebersamaan sujud panjang di sepertiga malam, menguatkan kembali sedekah dan mengasah kembali keihlasan dalam setiap takdir yang diberikan dan tentu memaksimalkan ikhtiar.
Kami merajut kembali simpul-simpul kekuatan dalam shalat di awal waktu dan menghidupkan sunah rawatib. Lembaran-lembaran tilawah Al-Quran menjadi santapan kami, ribuan istighfar dan helaan dzikir menjadi desahan dalam setiap nafas kami serta menguatkan keyakinan sepenuh jiwa. Seperti yang ayah pernah bilang di suatu senja, “ndo, yakinlah bahwa suatu saat nanti kamu pasti menjadi seorang ibu dari bayi yang kamu lahirkan melalui rahim yang telah Allah sediakan dalam tubuhmu. Yakinlah, Allah telah mempersiapkannya untuk kalian. Hanya tinggal menunggu waktu”.

Senyuman Di Penghujung Pasrah
          Kami saling menguatkan untuk mencoba memulai kembali ikhtiar secara lahiriyah demi mendapatkan sang buah hati. Berbekal hasil HSG beberapa bulan kebelakang, dokter menyarankan aku untuk melakukan laparoskopi.
          “Alhamdulillah operasi berjalan lancar , tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkan, hanya sedikit perlengketan dan semua sudah kami diatasi. Mudah-mudahan dalam tiga bulan kedepan ibu dapat segera hamil”. Dokter menjelskan hasil laparoskopi yang kujalani lima hari yang lalu. “Alhamdulillah…” sontak kami ucapkan sebagai tanda rasa syukur. Tangan mas Fahmi menggenggam erat tanganku, kami saling menguatkan.
          Hari-hari berikutnya kami mulai menelan obat-obat penyubur yang dokter berikan. Tiga bulan berlalu, belum juga ada tanda-tanda akan hadirnya tanda garis dua dalam test pack yang diam-diam kugunakan setiap bulannya. Bukan karena tamu bulanan datang telat, tapi karena aku selalu penasaran walau relung hati yang lain mengatakan tetap negatif hasilnya.
          “ini jalan terakhir, kalau memang tetap kita tidak diamanahi Allah buah cinta darah daging kita, kita harus ikhlas. Karena kesungguhan untuk mendapatkan buah hati, kita pertaruhkan melalui program ini”. Ujarku ketika satu bulan yang lalu dokter menyarankan kami untuk melakukan program inseminasi.
          Serangkaian tes laboratorium kami jalanai. Suntik buserelin di perut selama dua minggu, dilanjutkan dua minggu suntik hormon sintetis untuk mematangkan sel telurku aku jalani dengan ikhlas.
          Tidak terbayang sebelumnya, aku harus menyuntik sendiri perutku selama satu bulan. Padahal, sebelumnya melihat jarum suntik saja aku takut. Penyuntikan dilakukan pada jam yang sama setiap harinya. Karena waktu penyuntikan harus konsisten setiap hari, aku harus menyuntik perutku ditengah-tengah jam mengajar, di mall, saat seminar dalam rangka tugas kantor dan kegiatan lainnya. Sungguh pengalaman luar biasa dalam hidupku. Tapi aku harus tetap enjoy dan ikhlas menjalaninya demi mendapatkan momongan.
          Hasil penyuntikan dipantau melalui tes darah setiap dua hari sekali untuk melihat perkembangan jumlah dan ukuran sel telur di dua minggu terakhir proses penyuntikan.
          Seperti biasa, dua hari sebelum perkiraan haid, tanpa sepengetahuan mas Fahmi aku diam-diam melakukan tes kehamilan di kamar mandi. Namun, ada yang berbeda kali ini. “Subhanallah…Alhamdulillah…” pekikku tertahan hingga membangunkan mas Fahmi.
          “ada apa de?”, tergopoh mas Fahmi menghampiri kamar mandi.
Kubuka pintu tak sabar. “mas….” Kupeluk suamiku erat.
          Masih dengan kehawatiran yang mendalam dia membelaiku. “ada apa de?”
          “lihat mas..” kusodorkan hasil test pack dengan hasil dua garis padanya.
          “apa ini maksudnya, de?” tanya suamiku tak mengerti.
          “positif mas… ini artinya kita akan segera memiliki anak” ujarku tak dapat menahan air mata bahagia.
          “ya allah…benarkah?”, ucap mas Fahmi dengan senyum dan raut kaget yang terpancar dari wajahnya.
Untuk beberapa saat kami saling berpelukan, erat, saling menguatkan, menangis dalam bahagia. Kulepas pelukannya.
“hari ini mas ijin dulu nggak masuk kantor ya? Aku udah nggak sabar pengen dapet kepastian dari dokter. Kita periksa di jadwal pagi yuk?” pintaku pada mas Fahmi.
“oke…demi buah cinta kita”, mas Fahmi mengerlingkan sebelah matanya dan memberikanku ciuman bertubi-tubi. “11 tahun penantian, semoga ini adalah jawaban atas do’a-do’a orang tua kita, orang-orang shaleh dan ikhtiar kita selama ini ya de”. Ujar mas Fahmi dengan ulas senyum yang tak pernah pudar.

Once Upon A Time…

HSG           = Histerosalpingografi
Laparoskopi         = Operasi di perut dengan sayatan kecil


No comments:

Post a Comment