JUST A MATTER OF TIME
Oleh : Dhevi Fitriyani
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta
yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan
sawah ladang. Inilah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah lah tempat
kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran : 14)
Anak adalah salah satu perhiasan dunia. Walaupun kehadiran
anak bukanlah segalanya dalam kehidupan, namun anugerah anak dapat menjadi
penentu kelak di yaumil hisab: surga atau neraka. Tergantung amal yang
sudah dilakukan ketika di dunia.
Kegelisahan dan
Penghianatan
Tidak ada niatan sedikitpun untuk menunda memiliki
keturunan. Namun kiranya Allah berkehendak lain. Dia menguji kami dari arah
ini. Karena jika direnungi, alhamdulillah tidak ada yang kurang dalam kehidupan
kami. Keluarga yang sekufu, Pekerjaan yang mapan, rumah dan kendaraan pribadi
semuanya sudah kami miliki.
Namun tunggu punya
tunggu, setahun pernikahan sudah berlalu, keturunan yang kami nantikan belum
juga terlihat tanda-tandanya. Kamipun melakukan serangkaian pemeriksaan. Dan
alhamdulillah hasilnya kami dinyatakan sehat. Kehidupanpun berjalan
seperti biasanya. Kami larut dalam kesibukan pekerjaan masing-masing.
Dua tahun berlalu,
kehampaan itu semakin terasa seiring dengan pertanyaan keluarga, sahabat,
tetangga dan rekan kerja, “kapan nih punya momongan?”. Dilain waktu pertanyaan
lain muncul, “ikut KB ya? Kok belum hamil juga?”, bug!! Rasanya ada yang
menohok dalam dada. Belum lagi kalimat-kalimat yang mampir di telinga suamiku,
“lo laki bukan sih? Kok bini lo belon juga bunting?”, ah…kalimat
yang mungkin biasa bagi yang lain, tapi menyayat bagi kami, terutama aku.
Ya, aku yang sering
meneteskan air mata bahkan nangis bombay, terlebih jika tamu bulanan sedang
datang. Aku yang sering meninggalkan sesuap nasi demi membenamkan isakku dalam
bantal. Aku yang sering menghabiskan hari-hari membayangkan masa depan tanpa
keturunan. Dan aku juga yang sering mendesak mas Fahmi untuk sama-sama pergi
memeriksakan ke dokter kandungan.
Kegelisahan mulai
semakin sering menghampiri kami hingga keputusan untuk memeriksakan kembali
menjadi pilihan. Kali ini dokter menyarankan saya untuk melakukan HSG sedangkan
suami melakukan uji ketahanan sperma. Hasil HSG menunjukan jika saluran tuba sebelah
kiriku dinyatakan non patent. Dokter mengatakan bahwa itu artinya terdapat
sumbatan pada tuba sebelah kiriku. Kepala rasanya seperti digodam palu, kaki
serasa tak berpijak. Lemas…
Untuk beberapa bulan
aku dirundung sendu. Sebagai wanita normal, rasanya aku hilang harapan
untuk dapat memiliki kebahagiaan merasakan kehamilan, melahirkan dan memiliki
anak dari rahimku sendiri. Aku menarik diri dari riuh kehidupan. Senyum dan
keceriaanku pudar seiring dengan menyusutnya berat badanku. Bertubi-tubi kepahitan
yang kujalani. Ditengah frustasiku memikirkan nasib diriku kedepan, suami
terbuai dengan kisah asmara masa lalunya. Cinta lama yang yang belum kelar
mulai terajut selepas reuni SMA dua bulan sebelumnya. Intensitas komunikasi
mereka semakin lekat. Benarkah cinta suami hanya sebatas memiliki anak? Hingga
ia tega mencampakkanku begitu saja. Ah…semakin aku mengira-ngira, semakin
hilang kewarasanku. Dan akupun tumbang…
Untuk beberapa saat aku
menenangkan diri di rumah orang tuaku. Kepalaku semakin terasa sakit, air mata
menganak sungai. Aku mengurung diri dalam kesendirian dan kesedihan. Ya
Allah, mengapa cobaan-Mu ini datang menimpaku secara bertubi-tubi? Mengapa
Engkau berikan cobaan yang begitu berat untukku? Apakah Engkau tidak
menyayangiku? lirih batinku.
Aku begitu rapuh hingga
bisikan-bisikan setan selalu mengarahkanku untuk berburuk sangka. Beberapa
kali suami datang memintaku untuk kembali ke rumah kami namun hatiku terlanjur
sakit, menemuinyapun aku tak sudi. Aku semakin menghakimi diri sebagai wanita
mandul!!
Hanya ayah dan ibu
tempatku menumpahkan segalanya. Hanya dengan mereka aku mau berkomunikasi. Tak
henti ayah memberikan kekuatan dari kisah kesabaran Nabi Zakaria untuk
mendapatkan keturunan. Rengekan doa-doa yang ia pinta pada rabbnya tanpa kenal
lelah “Robbi habli min ladunka dzurriyyatan thoyibah, innaka sami’u
du’a”. Ya Tuhanku , berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu,
sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa”. (Q.S. Ali Imran ayat 38)
Beliau mengingatkanku
untuk tidak berprasangka buruk pada Allah sebab Allah akan bertindak sesuai
dengan prasangka hamba-Nya. Begitu juga dengan ibu. Belaiannya mampu menguatkan
setiap keterpurukanku, untaian katanya merangkum do’a bak oase ditengah gurun
tandus, ada kekuatan dalam setiap rangkai ucapnya. Dan aku pasti terhipnotis.
Walau aku tahu, tentu ia lebih sedih melampaui sedih yang kurasakan. Dan aku
tahu, ada tetes di sudut matanya yang indah walau selalu senyum yang terpancar
dari wajahnya. “Ndo, kaget, kecewa dan merasa rapuh memang
manusiawi. Tapi jangan terlalu berlarut sayang. Kamu berhak nak untuk
menumpahkan segala rasa yang kau pendam, namun jangan berlebihan. Karena
Allah tidak suka terhadap sesuatu yang berlebihan”.
Setelah dua hari aku
mengurung diri di kamar dengan makanan yang terpaksa masuk mulut karena suapan
sang bunda, disertai dengan kisah kekuatan wanita-wanita tangguh di zaman Nabi,
hari ini aku mulai beraktifitas diluar kamar. Aku menemani ibu mengiris bawang
dan memotong sayur mayur di dapur. Kulihat pancaran gembira dari wajah ayah dan
ibu.
“Ndo, Allah telah
memberikan begitu banyak nikmat padamu, bahkan kenikmatannya tak dapat kau
hitung dengan jarimu sendiri. Kenikmatan yang melekat dalam tubuhmu saja sudah
tak terhitung jumlahnya. Tubuhmu sehat sempurna, nikmat udara yang dapat kau
hirup juga gratis. Mata dapat meihat keindahan alam raya ini, tangan sempurna
dapat menggenggam. Kaki yang dapat berjalan tanpa harus menggunakan alat bantu.
Apakah Allah memintamu untuk membayar semua kenikmatan itu?”
Glek!! kutelan ludah,
getir.
Dalam sujud panjang
shalat dzuhur hari ini, air mataku kembali menganak sungai. Namun tangisan kali
ini bukan tangisan kekecewaanku pada takdir yang Allah berikan, melainkan
tangisan penyesalan dan rasa maluku pada rabbku yang telah memberikan segalanya
yang kumiliki tanpa kupinta. Lalu, mengapa aku harus marah pada Sang Pemberi
untuk satu hal saja yang tidak aku miliki? Mengapa aku selama ini hanya fokus
pada keinginanku dan mengabaikan beribu kenikmatan yang telah kunikmati? Robbighfirlii...
Kehidupan Kedua
Satu minggu berlalu, mas Fahmi kembali datang ke rumah
orang tuaku dengan maksud menjemputku. Walau masih ada sepercik rasa benci,
namun berkat kekuatan yang ayah dan ibu alirkan, kutemui juga lelaki yang kini
masih sah menjadi suamiku.
Kuambil posisi duduk bersebelahan dengan kursi mas Fahmi,
tentu dengan kursi yang berbeda. Sengaja kulakukan agar aku bisa menetralisir
rasaku, menyeimbangkan emosiku dan mengatur nafasku.
Sedetik kemudian mas Fahmi tersungkur membenamkan kepalanya
dalam pangkuanku seraya menangis sejadinya. “sungguh Fira, maafkan kesalahanku,
maafkan aku…maafkan aku…aku khilaf, hukum aku sesukamu namun jangan kau
tinggalkan aku. Aku semakin sadar ternyata aku tak dapat hidup tanpamu”.
Semakin erat genggamannya menggenggam tanganku.
Tak kuasa tumpah juga pertahananku. Bahuku berguncang
menahan buncahan rasa. Kubelai rambutnya. Tak dapat kupungkiri aku juga tak
dapat hidup tanpanya. Kualirkan maafku pada kekar bahunya yang berguncang.
Untuk beberapa lama kami saling mengalirkan kekuatan dan kepercayaan.
Selalu ada hikmah dibalik semua kejadian. Selepas badai
dalam rumah tangga yang kami rasakan, Allah memberikan kenikmatan yang
berlipat-lipat. Kami, terutama aku, tidak lagi menyesali takdir-Nya. Aku tidak
lagi terlalu fokus pada keinginan satu titik yang belum juga kugapai, kucoba
menjalani hidup yang Allah berikan dengan sepenuh kesyukuran, enjoy, happy…
Kami merasakan kehidupan pernikahan seperti pertama kali
bertemu. Mencoba menumbuhkan kembali benih-benih cinta yang pernah dirasakan di
awal pernikahan. Menjalani dan menikmati kebersamaan dalam setiap kesempatan.
Mencoba membenambamkan kembali dalam kebersamaan sujud panjang di
sepertiga malam, menguatkan kembali sedekah dan mengasah kembali keihlasan
dalam setiap takdir yang diberikan dan tentu memaksimalkan ikhtiar.
Kami merajut kembali
simpul-simpul kekuatan dalam shalat di awal waktu dan menghidupkan sunah
rawatib. Lembaran-lembaran tilawah Al-Quran menjadi santapan kami, ribuan
istighfar dan helaan dzikir menjadi desahan dalam setiap nafas kami serta
menguatkan keyakinan sepenuh jiwa. Seperti yang ayah pernah bilang di suatu
senja, “ndo, yakinlah bahwa suatu saat nanti kamu pasti menjadi seorang ibu
dari bayi yang kamu lahirkan melalui rahim yang telah Allah sediakan dalam
tubuhmu. Yakinlah, Allah telah mempersiapkannya untuk kalian. Hanya tinggal
menunggu waktu”.
Senyuman Di Penghujung
Pasrah
Kami saling menguatkan untuk mencoba memulai kembali
ikhtiar secara lahiriyah demi mendapatkan sang buah hati. Berbekal hasil HSG
beberapa bulan kebelakang, dokter menyarankan aku untuk melakukan laparoskopi.
“Alhamdulillah operasi berjalan lancar , tidak ada sesuatu
yang harus dikhawatirkan, hanya sedikit perlengketan dan semua sudah kami
diatasi. Mudah-mudahan dalam tiga bulan kedepan ibu dapat segera hamil”. Dokter
menjelskan hasil laparoskopi yang kujalani lima hari yang lalu.
“Alhamdulillah…” sontak kami ucapkan sebagai tanda rasa syukur. Tangan mas
Fahmi menggenggam erat tanganku, kami saling menguatkan.
Hari-hari berikutnya kami mulai menelan obat-obat penyubur
yang dokter berikan. Tiga bulan berlalu, belum juga ada tanda-tanda akan
hadirnya tanda garis dua dalam test pack yang diam-diam kugunakan setiap
bulannya. Bukan karena tamu bulanan datang telat, tapi karena aku selalu
penasaran walau relung hati yang lain mengatakan tetap negatif hasilnya.
“ini jalan terakhir, kalau memang tetap kita tidak
diamanahi Allah buah cinta darah daging kita, kita harus ikhlas. Karena
kesungguhan untuk mendapatkan buah hati, kita pertaruhkan melalui program ini”.
Ujarku ketika satu bulan yang lalu dokter menyarankan kami untuk melakukan
program inseminasi.
Serangkaian tes laboratorium kami jalanai. Suntik buserelin
di perut selama dua minggu, dilanjutkan dua minggu suntik hormon sintetis untuk
mematangkan sel telurku aku jalani dengan ikhlas.
Tidak terbayang sebelumnya, aku harus menyuntik sendiri
perutku selama satu bulan. Padahal, sebelumnya melihat jarum suntik saja aku
takut. Penyuntikan dilakukan pada jam yang sama setiap harinya. Karena waktu
penyuntikan harus konsisten setiap hari, aku harus menyuntik perutku
ditengah-tengah jam mengajar, di mall, saat seminar dalam rangka tugas
kantor dan kegiatan lainnya. Sungguh pengalaman luar biasa dalam hidupku. Tapi
aku harus tetap enjoy dan ikhlas menjalaninya demi mendapatkan momongan.
Hasil penyuntikan dipantau melalui tes darah setiap dua
hari sekali untuk melihat perkembangan jumlah dan ukuran sel telur di dua
minggu terakhir proses penyuntikan.
Seperti biasa, dua hari sebelum perkiraan haid, tanpa
sepengetahuan mas Fahmi aku diam-diam melakukan tes kehamilan di kamar mandi.
Namun, ada yang berbeda kali ini. “Subhanallah…Alhamdulillah…” pekikku
tertahan hingga membangunkan mas Fahmi.
“ada apa de?”, tergopoh mas Fahmi menghampiri kamar mandi.
Kubuka pintu tak sabar.
“mas….” Kupeluk suamiku erat.
Masih dengan kehawatiran yang mendalam dia membelaiku. “ada
apa de?”
“lihat mas..” kusodorkan hasil test pack dengan
hasil dua garis padanya.
“apa ini maksudnya, de?” tanya suamiku tak mengerti.
“positif mas… ini artinya kita akan segera memiliki anak”
ujarku tak dapat menahan air mata bahagia.
“ya allah…benarkah?”, ucap mas Fahmi dengan senyum dan raut
kaget yang terpancar dari wajahnya.
Untuk beberapa saat kami
saling berpelukan, erat, saling menguatkan, menangis dalam bahagia. Kulepas
pelukannya.
“hari ini mas ijin dulu
nggak masuk kantor ya? Aku udah nggak sabar pengen dapet kepastian dari dokter.
Kita periksa di jadwal pagi yuk?” pintaku pada mas Fahmi.
“oke…demi buah cinta
kita”, mas Fahmi mengerlingkan sebelah matanya dan memberikanku ciuman
bertubi-tubi. “11 tahun penantian, semoga ini adalah jawaban atas do’a-do’a
orang tua kita, orang-orang shaleh dan ikhtiar kita selama ini ya de”. Ujar mas
Fahmi dengan ulas senyum yang tak pernah pudar.
Once Upon A Time…
HSG =
Histerosalpingografi
Laparoskopi =
Operasi di perut dengan sayatan kecil

No comments:
Post a Comment