Selepas shalat ashar sambil makan cemilan, jagoan saya mulai bercerita tentang kegiatannya di sekolah hari itu dan mengalirlah cerita tentang pembagian roti yang katanya lezat dan membuat ketagihan. Dipenghujung cerita si jagoan meminta bundanya untuk membuat roti abon seperti yang ia makan tadi pagi. Sebenarnya dalam hati saya bertanya, kok tumben, biasanya jagoan saya paling susah makan makanan berat seperti biskuit, roti, dsb, tapi kali ini malah minta dibuatkan.
"Bunda, buatkan aa roti abon dong", pintanya.
"Aa seneng sama roti abon?", ia mengangguk cepat.
Seperti mendapat momen tepat untuk memberikannya karbohidrat yang ia senangi, siapa tahu bisa membuat berat badannya bertambah hehehe....
.
Iya, saya kadang suka pusing sendiri sama si jagoan, nafsu makannya sedikit sekali padahal saya sudah mencoba membuatkan beberapa menu sehat yang ia sukai tapi tetap saja hanya beberapa icip yang dia coba. Sering saya bertanya pada jagoan saya apakah karena masakan saya yang kurang enak atau bagaimana. Biasanya jagoan saya memeluk saya sambil berkata, "masakan bunda enak kok cuma nggak tau nafsu makan aa kok kecil ya bunda, cepet kenyang". Sempat terlintas...jangan-jangan anakku cacingan? akh..masa sih? walau porsi makannya tidak banyak tapi dia tetap energik kok...(nah bagian ini entahlah..sepertinya bunda nggak rela kalau anaknya dikira cacingan, walau yang nuduh hati kecilnya yang super khawatir hehehe..)
.
Kembali ke cerita roti abon, berhubung bahan-bahan membuat roti yang saya miliki tidak lengkap ditambah waktu yang dimiliki pada hari-hari kerja sangat terbatas (yang ini cuma alasan doang hahaha...padahal si bunda belum bisa bikin roti...jiahhh) dan yang paling utama adalah ingin adanya keterlibatan jagoan dalam membuat roti (nah kalo yang ini beneran loh...) Maka kali ini saya mengajak jagoan saya ke rumah teh Nanny, tetangga yang sudah kuanggap saudara sendiri dan si jagoan memanggilnya tante Nanny, sang master dalam membuat kue-kue lezat. Kuutarakan maksudku dan teh Nanny menyanggupi untuk membuatkan beberapa roti abon saat itu juga, kebetulan bahan-bahannya sudah tersedia dan beliau juga sedang tidak ada kesibukan. Teh Nanny itu selain pintar memasak juga amat menyayangi Fajri dan sudah menganggap Fajri sebagai anaknya sendiri. Sebelum kami beranjak ke dapur, teh Nanny bertanya pada Fajri beberapa pertanyaan terkait dengan kegiatan sekolah si jagoan. "Hafalan juz 'amma aa sudah sampai mana?" . "Alhamdulillah sekarang masuk surat Al-Buruj tante", jawab jagoan saya. "Oh berarti Al-Muthafifin sudah hafal ya?". "Insya allah tante, tinggal muroja'ah". "Coba tante mau dong mendengarkan aa muroja'ah surat Al-Muthafifin". Dan mengalirlah suara yang nyess (di hati bundanya) melantunkan surat Al-Muthafifin. "Alhamdulillah, hebat ya aa fajri sudah hafal Al-Muthafifin, murojaahnya juga lancar". "Baiklah, sebagai hadiah atas hafalan aa fajri, tante mau buatkan roti abon spesial buat aa, gratis!!!" Sontak senyum mengembang di bibirnya juga bibir bunda pastinya hahaha...Kemudian kami pergi ke dapur, Teh Nanny menyiapkan bahan-bahannya. Saya dan jagoan saya ikut bantu-bantu sedikit semampu kami. dan taraaa....... tepat jam 17.30 roti abon pesanan si jagoan jadi juga.
Ba'da shalat maghrib sebelum mengaji dan muroja'ah saya tegaskan lagi kata-kata yang disampaikan teh Nanny sebagai apresiasi atas usahanya dalam membacakan surat Al-muthafifin dengan baik tadi di rumah teh Nanny. ini juga merupakan materi komunikasi produktif dengan anak di kuliah Bunda Sayang IIP Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan. Saya memluknya erat, "Bunda bangga aa sudah mau menjaga hafalan aa...terima kasih ya nak". Dan jagoan saya membalas dengan ciuman mendarat di pipi.
.
Tidak ada yang melebihi kebahagiaan bunda selain melihatmu tumbuh menjadi generasi qur'ani, nak. Generasi yang senantiasa membaca, menghafal, memahami dan mengamalkan Al-Qur'an di belahan bumi manapun.
.
Fabiayyi Alairobbikuma Tukadziban...
Kota Angin, 07112017
#hari6
#gamelevel1
#tangtangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
"Bunda, buatkan aa roti abon dong", pintanya.
"Aa seneng sama roti abon?", ia mengangguk cepat.
Seperti mendapat momen tepat untuk memberikannya karbohidrat yang ia senangi, siapa tahu bisa membuat berat badannya bertambah hehehe....
.
Iya, saya kadang suka pusing sendiri sama si jagoan, nafsu makannya sedikit sekali padahal saya sudah mencoba membuatkan beberapa menu sehat yang ia sukai tapi tetap saja hanya beberapa icip yang dia coba. Sering saya bertanya pada jagoan saya apakah karena masakan saya yang kurang enak atau bagaimana. Biasanya jagoan saya memeluk saya sambil berkata, "masakan bunda enak kok cuma nggak tau nafsu makan aa kok kecil ya bunda, cepet kenyang". Sempat terlintas...jangan-jangan anakku cacingan? akh..masa sih? walau porsi makannya tidak banyak tapi dia tetap energik kok...(nah bagian ini entahlah..sepertinya bunda nggak rela kalau anaknya dikira cacingan, walau yang nuduh hati kecilnya yang super khawatir hehehe..)
.
Kembali ke cerita roti abon, berhubung bahan-bahan membuat roti yang saya miliki tidak lengkap ditambah waktu yang dimiliki pada hari-hari kerja sangat terbatas (yang ini cuma alasan doang hahaha...padahal si bunda belum bisa bikin roti...jiahhh) dan yang paling utama adalah ingin adanya keterlibatan jagoan dalam membuat roti (nah kalo yang ini beneran loh...) Maka kali ini saya mengajak jagoan saya ke rumah teh Nanny, tetangga yang sudah kuanggap saudara sendiri dan si jagoan memanggilnya tante Nanny, sang master dalam membuat kue-kue lezat. Kuutarakan maksudku dan teh Nanny menyanggupi untuk membuatkan beberapa roti abon saat itu juga, kebetulan bahan-bahannya sudah tersedia dan beliau juga sedang tidak ada kesibukan. Teh Nanny itu selain pintar memasak juga amat menyayangi Fajri dan sudah menganggap Fajri sebagai anaknya sendiri. Sebelum kami beranjak ke dapur, teh Nanny bertanya pada Fajri beberapa pertanyaan terkait dengan kegiatan sekolah si jagoan. "Hafalan juz 'amma aa sudah sampai mana?" . "Alhamdulillah sekarang masuk surat Al-Buruj tante", jawab jagoan saya. "Oh berarti Al-Muthafifin sudah hafal ya?". "Insya allah tante, tinggal muroja'ah". "Coba tante mau dong mendengarkan aa muroja'ah surat Al-Muthafifin". Dan mengalirlah suara yang nyess (di hati bundanya) melantunkan surat Al-Muthafifin. "Alhamdulillah, hebat ya aa fajri sudah hafal Al-Muthafifin, murojaahnya juga lancar". "Baiklah, sebagai hadiah atas hafalan aa fajri, tante mau buatkan roti abon spesial buat aa, gratis!!!" Sontak senyum mengembang di bibirnya juga bibir bunda pastinya hahaha...Kemudian kami pergi ke dapur, Teh Nanny menyiapkan bahan-bahannya. Saya dan jagoan saya ikut bantu-bantu sedikit semampu kami. dan taraaa....... tepat jam 17.30 roti abon pesanan si jagoan jadi juga.
Ba'da shalat maghrib sebelum mengaji dan muroja'ah saya tegaskan lagi kata-kata yang disampaikan teh Nanny sebagai apresiasi atas usahanya dalam membacakan surat Al-muthafifin dengan baik tadi di rumah teh Nanny. ini juga merupakan materi komunikasi produktif dengan anak di kuliah Bunda Sayang IIP Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan. Saya memluknya erat, "Bunda bangga aa sudah mau menjaga hafalan aa...terima kasih ya nak". Dan jagoan saya membalas dengan ciuman mendarat di pipi.
.
Tidak ada yang melebihi kebahagiaan bunda selain melihatmu tumbuh menjadi generasi qur'ani, nak. Generasi yang senantiasa membaca, menghafal, memahami dan mengamalkan Al-Qur'an di belahan bumi manapun.
.
Fabiayyi Alairobbikuma Tukadziban...
Kota Angin, 07112017
#hari6
#gamelevel1
#tangtangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


No comments:
Post a Comment