Monday, November 6, 2017

Happy Ramadhan

Ramadhan ; Berdamai dengan Amarah
Dhevi Fitriyani

Beberapa waktu lalu dikabarkan seorang pelajar SMP di sebuah kota, tewas mengenaskan setelah terlibat tawuran. Dia meninggal dengan satu luka tusuk yang mengenai jantungnya. Kabar lainnya mengenai perkelahian antar pekerja tambang yang mengakibatkan beberapa korban. Belum lagi berita pembunuhan yang dilatar belakangi dendam dikabarkan baru-baru ini di berbagai media.
Itu hanya secuil berita bentrokan, tawuran dan pembunuhan yang terjadi dari sekian banyak kisah menyedihkan warga negara kita yang mudah sekali mengekspresikan marah. Tawuran dan kerusuhan silih berganti muncul di berbagai sudut bumi pertiwi. Ditengah berita panas diatas kurang dari 100 hari lagi Ramadhan bulan penuh ampunan, akan hadir ditengah-tengah kita dan sudah sepantasnya kita mempersiapkan diri menyambutnya. Kabar Ramadhan yang akan hadir dalam hitungan hari agaknya menjadi oase ditengah berkecamuknya berita-berita panas yang kerap menjadi santapan harian di televisi maupun media-media lainnya.
Ramadhan sebuah momentum tepat untuk menjalin yang terputus, menguatkan yang sudah tersambung, serta menahan syahwat dan emosi. Momen Ramadhan sangat tepat bagi kita untuk melakukan proses detoksifikasi atau semacam latihan untuk mengeluarkan seluruh racun dalam tubuh, membuang kotoran batin yang hasilnya tubuh, pikiran, perasan dan ruhani akan terasa sehat kembali.
Dalam riwayat Abu Said al-Khudri, Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridhai, sedangkan seburuk-buruk manusia adalah yang cepat marah dan lambat meridhai,” (HR Ahmad).
Hadist tersebut jelas merupakan ajakan agar kita tidak termasuk orang yang mudah marah, emosional dan pendendam. Dalam kitab Ihya Ulumuddin,  Imam Al-Ghazali menguraikan, marah bagaikan api yang berkobar-kobar, menyerang dan bergejolak dalam hati manusia. Karenanya, mengendalikan amarah membutuhkan kesungguhan dan kekuatan besar bagi setiap individu. “Tidaklah kekuatan itu diukur dengan adu kekuatan. Namun yang kuat itu adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah,” (HR. Bukhari).
Secara umum, ada tiga cara orang mengekspresikan kemarahannya. Pertama, menyalurkannya secara langsung pada obyek kemarahan. Hal ini tentu mengandung positif dan negatif. Hal positif dari tindakan ini, tentu sebagian emosi langsung tersalurkan sehingga kemarahan lebih cepat mereda.  Negatifnya, bisa menimbulkan perkelahian dan sebagainya, sebab sikap marah dapat menulari orang lain untuk berprilaku yang sama.
Kedua, kemarahan yang ditahan dan disimpan dalam diri sendiri. Reaksi ini memang tidak menimbulkan masalah dalam lingkungan, namun justru kepada diri sendiri, karena kita malah menyalurkan energi negatif kedalam diri. Jika ini terjadi dalam rentang waktu yang panjang, bukan tidak mungkin akan menjadi bom waktu yang dapt meledak kapan saja. Ketiga, mengontrol dan menenangkan diri dari kemarahan. Kita menerima emosi itu, kemudian melepaskannya dengan cara yang terkontrol dan mengikhlaskannya.
Dari ketiga ekspresi marah tersebut, manakah yang paling baik? Mengkombinasikan ketiganya sesuai situasi dan kondisi agaknya lebih bijak. Adakalanya menyalurkan emosi secara langsung itu baik, seperti saat dirampok dan diserang fisik, kita bisa membela diri. Dilain situasi, kita lebih baik menekan kemarahan dan mencoba berpikir dari sudut pandang orang lain, contohnya ketika kendaraan kita disalip orang. Daripada buang-buang energi mengeluarkan sumpah serapah, lebih baik menahan amarah.
Marah yang tidak terkendali sangatlah negatif akibatnya. sebab kebanyakan marah akan melukai hati dan perasaan orang lain, mendatangkan permusuhan, merugikan orang lain dan juga menjauhkan persaudaraan. Selain dengan orang lain, marah juga dapat merusak hubungan kita dengan Allah swt. Tak heran, sedemikian pentingnya menahan amarah, Allah menjanjikan surga sebagai ganjarannya. Rasulullah saw bersabda, “Laa taghdab wa lakal jannah (janganlah kamu marah maka bagimu surga),” (HR Abu Dunya).
Sebagai langkah mengendalikan amarah, berikut terdapat 6 langkah efektif yang dapat kita coba :
1.      Berlindung kepada Allah dari godaan syaitan dengan membaca Ta’awudz.
2.      Menahan diri untuk tidak bicara, sebagaimana sabda Nabi saw, “Apabila salah seorang di antara kalian marah maka hendaklah dia diam,” (HR Imam Ahmad).
3.      Bersikap tenang denga duduk apabila sedang berdiri, aatau tidur terlentang apabila ia sedang duduk. Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan dia berdiri maka hendaklah dia duduk , agar kemarahannya hilang, apabila masih belum mereda maka hendaklah dia berbaring,” (HR Abu dawud).
4.      Berwudhu. Sabda Nabi saw, “Marah itu bara api, maka padamkanlah ia dengan berwudhu,” (HR Al-Baihaqi).
5.      Selalu ingat surga. Rasulullah saw berkata, “Barangsiapa yang menahan kemarahannya sedangkan ia mampu untuk melakukannya sedangkan ia mampu untuk melakukannya, maka Allah akan menyeru dia dihadapan seluruh manusia pada hari kiamat untuk dipilihkan baginya bidadari yang dikehendakinay,” (HR Abu Dawud).
6.      Selalu ebrdzikir kepada Allah swt karena membuat kita mudah menahan marah dan meredam emosi. Firman-Nya, “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentreram,” (QS. Ar-Ra’ad : 28)
Menurut praktisi psikolog Drs. Asep haerul Gani, Psi, makna shiyam antara lain imsak, yang berarti menahan atau jeda. Shiyam Ramadhan dapat dimanfaatkan sebagai latihan untuk memberikan jeda pada pikiran kita ketika ada stimulus tertentu. Saat jeda itu kita arahkan pikiran agar memiliki prespektif yang netral, tepat, memberdayakan, dan membahagiakan.
Semoga di Ramadhan kali ini kita mampu mnjadikannya sebagai ajang latihan menahan amarah yang tak terkendali. Sehingga selepas ramadhan kita menjadi pribadi pemaaf yang dekat dengan syurga. Semoga.






















No comments:

Post a Comment