Ramadhan ; Berdamai dengan Amarah
Dhevi Fitriyani
Beberapa waktu lalu dikabarkan seorang pelajar SMP di sebuah kota, tewas
mengenaskan setelah terlibat tawuran. Dia meninggal dengan satu luka tusuk yang
mengenai jantungnya. Kabar lainnya mengenai perkelahian antar pekerja tambang
yang mengakibatkan beberapa korban. Belum lagi berita pembunuhan yang dilatar belakangi
dendam dikabarkan baru-baru ini di berbagai media.
Itu hanya secuil berita bentrokan, tawuran dan pembunuhan yang terjadi
dari sekian banyak kisah menyedihkan warga negara kita yang mudah sekali
mengekspresikan marah. Tawuran dan kerusuhan silih berganti muncul di berbagai
sudut bumi pertiwi. Ditengah berita panas diatas kurang dari 100 hari lagi
Ramadhan bulan penuh ampunan, akan hadir ditengah-tengah kita dan sudah
sepantasnya kita mempersiapkan diri menyambutnya. Kabar Ramadhan yang akan
hadir dalam hitungan hari agaknya menjadi oase ditengah berkecamuknya
berita-berita panas yang kerap menjadi santapan harian di televisi maupun
media-media lainnya.
Ramadhan sebuah momentum tepat untuk menjalin yang terputus, menguatkan
yang sudah tersambung, serta menahan syahwat dan emosi. Momen Ramadhan sangat
tepat bagi kita untuk melakukan proses detoksifikasi atau semacam latihan untuk
mengeluarkan seluruh racun dalam tubuh, membuang kotoran batin yang hasilnya
tubuh, pikiran, perasan dan ruhani akan terasa sehat kembali.
Dalam riwayat Abu Said al-Khudri, Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik
manusia adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridhai, sedangkan
seburuk-buruk manusia adalah yang cepat marah dan lambat meridhai,” (HR Ahmad).
Hadist tersebut jelas merupakan ajakan agar kita tidak termasuk orang
yang mudah marah, emosional dan pendendam. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam
Al-Ghazali menguraikan, marah bagaikan api yang berkobar-kobar, menyerang dan
bergejolak dalam hati manusia. Karenanya, mengendalikan amarah membutuhkan
kesungguhan dan kekuatan besar bagi setiap individu. “Tidaklah kekuatan itu
diukur dengan adu kekuatan. Namun yang kuat itu adalah yang dapat mengendalikan
dirinya ketika marah,” (HR. Bukhari).
Secara umum, ada tiga cara orang mengekspresikan kemarahannya. Pertama, menyalurkannya secara langsung
pada obyek kemarahan. Hal ini tentu mengandung positif dan negatif. Hal positif
dari tindakan ini, tentu sebagian emosi langsung tersalurkan sehingga kemarahan
lebih cepat mereda. Negatifnya, bisa
menimbulkan perkelahian dan sebagainya, sebab sikap marah dapat menulari orang
lain untuk berprilaku yang sama.
Kedua, kemarahan yang ditahan
dan disimpan dalam diri sendiri. Reaksi ini memang tidak menimbulkan masalah
dalam lingkungan, namun justru kepada diri sendiri, karena kita malah
menyalurkan energi negatif kedalam diri. Jika ini terjadi dalam rentang waktu
yang panjang, bukan tidak mungkin akan menjadi bom waktu yang dapt meledak
kapan saja. Ketiga, mengontrol dan
menenangkan diri dari kemarahan. Kita menerima emosi itu, kemudian
melepaskannya dengan cara yang terkontrol dan mengikhlaskannya.
Dari ketiga ekspresi marah tersebut, manakah yang paling baik? Mengkombinasikan
ketiganya sesuai situasi dan kondisi agaknya lebih bijak. Adakalanya
menyalurkan emosi secara langsung itu baik, seperti saat dirampok dan diserang
fisik, kita bisa membela diri. Dilain situasi, kita lebih baik menekan kemarahan
dan mencoba berpikir dari sudut pandang orang lain, contohnya ketika kendaraan
kita disalip orang. Daripada buang-buang energi mengeluarkan sumpah serapah,
lebih baik menahan amarah.
Marah yang tidak terkendali sangatlah negatif akibatnya. sebab kebanyakan
marah akan melukai hati dan perasaan orang lain, mendatangkan permusuhan,
merugikan orang lain dan juga menjauhkan persaudaraan. Selain dengan orang
lain, marah juga dapat merusak hubungan kita dengan Allah swt. Tak heran,
sedemikian pentingnya menahan amarah, Allah menjanjikan surga sebagai
ganjarannya. Rasulullah saw bersabda, “Laa taghdab wa lakal jannah (janganlah
kamu marah maka bagimu surga),” (HR Abu Dunya).
Sebagai langkah mengendalikan amarah, berikut terdapat 6 langkah efektif
yang dapat kita coba :
1.
Berlindung kepada Allah dari godaan syaitan
dengan membaca Ta’awudz.
2.
Menahan diri untuk tidak bicara, sebagaimana
sabda Nabi saw, “Apabila salah seorang di antara kalian marah maka hendaklah
dia diam,” (HR Imam Ahmad).
3.
Bersikap tenang denga duduk apabila sedang
berdiri, aatau tidur terlentang apabila ia sedang duduk. Rasulullah saw bersabda,
“Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan dia berdiri maka
hendaklah dia duduk , agar kemarahannya hilang, apabila masih belum mereda maka
hendaklah dia berbaring,” (HR Abu dawud).
4.
Berwudhu. Sabda Nabi saw, “Marah itu bara api,
maka padamkanlah ia dengan berwudhu,” (HR Al-Baihaqi).
5.
Selalu ingat surga. Rasulullah saw berkata,
“Barangsiapa yang menahan kemarahannya sedangkan ia mampu untuk melakukannya
sedangkan ia mampu untuk melakukannya, maka Allah akan menyeru dia dihadapan
seluruh manusia pada hari kiamat untuk dipilihkan baginya bidadari yang
dikehendakinay,” (HR Abu Dawud).
6.
Selalu ebrdzikir kepada Allah swt karena membuat
kita mudah menahan marah dan meredam emosi. Firman-Nya, “Ketahuilah bahwa hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tentreram,” (QS. Ar-Ra’ad : 28)
Menurut praktisi psikolog Drs. Asep haerul Gani, Psi, makna shiyam antara lain imsak, yang berarti
menahan atau jeda. Shiyam Ramadhan
dapat dimanfaatkan sebagai latihan untuk memberikan jeda pada pikiran kita
ketika ada stimulus tertentu. Saat jeda itu kita arahkan pikiran agar memiliki
prespektif yang netral, tepat, memberdayakan, dan membahagiakan.
Semoga di Ramadhan kali ini kita mampu mnjadikannya sebagai ajang latihan
menahan amarah yang tak terkendali. Sehingga selepas ramadhan kita menjadi
pribadi pemaaf yang dekat dengan syurga. Semoga.

No comments:
Post a Comment