Monday, November 6, 2017

Clear & Clarify

Hari ini tanpa sengaja saya menemukan pesan by WhatsApp di hp pak suami. Jadi ceritanya begini. Ketika perjalanan pulang dari rumah saudara karena ada sesuatu yang harus diselesaikan, hp pak suami berbunyi tanda pesan masuk. Karena beliau sedang menyetir maka saya yang membuka pesan khawatir pesan tersebut penting. Setelah dibuka ternyata ada dua pesan berbeda yang masuk, satu dari karyawan kami menanyakan harga suatu barang dan satu lagi dari adik pak suami yang nomor satu. Pak suami adalah sulung dari tiga bersaudara, dua adiknya adalah perempuan. Yang pertama tinggal tak jauh dari rumah kami sementara yg kedua alias bungsu tinggal di Jakarta ikut suaminya.
.
Setelah kubaca, darahku berdesir, ingin rasanya aku marah. Ketika itu emosi lebih menguasai daripada nalarku. Pak suami yang melihat perubahan raut muka saya, bertanya, "kenapa, Bun?"
"Ih sebel, kenapa nggak bilang langsung sama bunda sih?"
Mendapat jawaban demikian pak suami tambah bingung, "ada apa sih, Bun?" Sambil berusaha menjaga konsentrasinya.
.
"Ini loh ada ada pesan dari neng (panggilan untuk adik pertama) terus bilang kata nde (panggilan untuk adik kedua) bunda suruh berhenti dulu jualan fashionny di Facebook karena dia mau meneruskan jualannya yang sempet vakum di FB. Kenapa sih nggak bilang langsung sama bunda? Pake bilang ke neng terus bilangnya ke ayah bukan ke bunda?"
.
"Husnudhon aja Bun mungkin nde sungkan bilang langsung ke bunda", kata pak suami menenangkan. "Oh berarti status marah-marah tempo hari di FB yang katanya dia ngerasa nggak enak karena lapaknya diembat orang, saudara dekat pula dan ternyata orang yang dimaksud itu bunda", masih dengan intonasi tinggi saya marah. "Oh emang ada status gitu d FB nde?", Tanya pak suami yang memang nggak pernah buka FB kendatipun punya akunnya. "Iya dan bunda nggak kepikiran itu maksudnya ke bunda karena emang bunda nggak ngerasa ngerebut lapaknya di FB karena emang nde nggak jualan fashion. Walaupun pernah tapi jualannya offline dan itupun mandeg, masih banyak baju-baju yang nggak kenal sampel sekarang", terangku panjang kali lebar masih dengan intonasi marah. Pak suami menenangkan dengan mengusap punggung tangan saya dan bilang "sabar Bun".
.
Sesampainya di rumah, setelah saya terlihat lebih tenang pak suami mendekat dan duduk bersejajar. "Bun, maafin nde ya. Bunda kan tau sifat nde kayak apa kalau marah? Suka bledag Bledug tapi bentar juga kalau sudah reda dia bakal menyadarinya". Saya yang saat itu sudah low themperature dari rasa kesal menanggapi pak suami, "ayah kan tau kalau tujuan bunda jualan di FB itu bukan untuk gaya-gayaan apalagi ngerebut lapak sodara sendiri", sambil saya tatap matanya (cieee)#eh..
.
Sedetik kemudian panggilan video call wathsapp saya berdering dan  itu dari nde. Setelah salam dan sedikit basa-basi nde menyatakan permintaan maafnya  karena tidak mengatakan harapannya langsung sama saya. Kali ini nalar saya sudah lebih dominan daripada emosi. "Iya deh ga papa teteh juga minta maaf kalo ternyata status jualn-jualan teteh di FB dianggap ngambil lapak nde. Nggak ada niat jelek sama sekali justru kedepannya teteh berniat jualin sisa baju-baju nde yang masih  ada di toko tapi nanti kalo dalam dua Minggu teteh berhasil bikin orang-orang "melek" dulu  kalo ternyata Devi tuh jualan fashion syar'i ya. Nah itu akan lebih  mudah. Teteh juga sengaja kalo Selasa sama Kamis jualannya Bros, Rabu sama Sabtu jualannya buku", kutatap matanya untuk meyakinkan jika saya benar-benar jujur. Tapi kalo memang nde mau jualan fashion by FB meneruskan yang dulu teteh nggak keberatan qo nggak posting fashion juga yang penting persaudaraan kita tidak ada masalah dan kita mendapat Ridha Allah bukan semata mencari keuntungan. Alhamdulillah nde memahami.
.
Setelah berbincang saling mengutarakan maksud masing-masing dan kami saling memahami, kami saling bermaafan atas emosi yang pernah menguasai hati dan pikiran kami, telefon ditutup. Alhamdulillah, beberapa kaidah ilmu komunikasi produktif dapat dipraktikan pada tantangan yang dihadapi kali ini dengan adik ipar.
.
Setelah telefon ditutup, pak suami mengucapkan terima kasihnya atas pengertianku. Alhamdulillah ayah, bunda sudah berhasil mempraktikkan ilmu yang didapat dari kelas bunsay tentang ilmu komunikasi produktif dengan pasangan, walaupun dalam episode kali ini berkaitan juga dengan orang ketiga, yaitu adik ipar.
.
Huallahahu a'lam bishawwab...

Kota Angin, 06112017

#hari5
#gamelevel1
#tantangan 10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


No comments:

Post a Comment