Bismillahirrahmanirrahim..
Alhamdulillah akhirnya bertemu juga dengan pengalaman baru mengerjakan tantangan Games Level#1 di kelas Bunda Sayang setelah melewati kurang lebih tiga bulan mengerjakan NHW di kelas Matrikulasi. Campur aduk antara senang dan deg2an. Bukan, bukan soal benar atau salah hasilnya namun lebih kepada rasa PeDe menulis lagi. Setelah sekian lama blog ini "membeku" akhirnya dengan berucap basmallah harus di berdayakan lagi, budaya menulisnya harus dipupuk lagi.
Tantangan kali ini adalah menuliskan hasil implementasi komunikasi produktif dan saya pilih hasil komunikasi produktif dengan jagoan saya, M.Fajri Firdaus (10 th). Mengapa demikian? Karena menurut saya mendidik anak diperlukan kerjasama dengan pasangan kita. Maka ketika ilmu komunikasi produktif diterapkan kepada anak otomatis saya mempraktekkan ilmu itu terhadap pasangan saya terlebih dahulu..ya semacam menyamakan visi dan misi gitu deh..
Artinya jangan sampai saya yang mengimplementasikan eh pak suami yang meruntuhkan. Contoh saya ambil materi KISS misalnya, "aa, buku Sains yang sudah dibaca masukin lagi ke tas ya?" dan saya menunggu reaksi jagoan saya...eh pak suami malah nyerocos "kalo udah di masukin ke tas, periksa lagi buku2 pelajarannya bisi ada yg tertinggal lalu simpan tasnya diatas meja belajar" alhasil si anak malah ogah-ogahan plus bibir manyun lima senti, melakukan perintah sang ayah karena udah bete dengerin instruksi yang panjang kayak kereta...hehehe..dan ini pengalaman yang pernah terjadi.
Well, berawal dari cerita sulung saya sepulang sekolah dengan raut wajah kusut. "Bunda, tadi aa nggak ikutan temen2 di acara berbagi".
Kamis ini memang di sekolah fajri mengadakan acara berbagi dengan teman sekelas, jadi semua anggota kelas disarankan untuk membawa makanan apa saja yang bisa dibagi dengan teman, nggak usah banyak-banyak qo, poinnya adalah anak senang berbagi. Nah, fajri sebenarnya sudah menyiapkan makanan (kue nastar homade) yang hendak ia bagi di kelas namun karena pagi-pagi sebelum mobil jemputan sekolah datang, --tanpa sepengetahuan saya--kue yang yang sudah ada di tas ia keluarkan maksudya ia pengen icip satu tapi kemudian tidak segera ia simpan ke tas kembali melainkan disimpan disamping TV (agak menjorok sehingga kalopun kita nonton tv sambil duduk di lantai nggak langsung kelihatan). Sementara ia melanjutkan sarapannya sambil fokus pada film kisah nabi yang ia tonton. Biasanya saya tidak ijinkan dia untuk melakukan aktifitas makan bersamaan dengan aktifitas lain namun kali ini ia agak merengek untuk monton kisah nabi itu dengan perjanjian sarapannya dihabiskan sebelum mobil datang dan jagoan saya menyanggupi. "Tapi semua sudah siap, kan?" tanya saya. "Siap bun", jawabnya. Saya yang yakin kalau kue nastar itu sudah ada di tasnya tidak bertanya kembali soal itu. Ketika mobil jemputan tiba, Fajri dengan segera meraih tas, salim dan bergegas masuk ke mobil.
Hingga sepulang sekolah dia berkata kalau dia tidak bisa berbagi dengan temannya dikarenakan kue nastar tertinggal disamping tv. Astagfirullah..begitu dilihat, benar saja kue nastar yang tertutup toples masih " nangkring" disamping tv.
Setelah kuberikan segelas air putih sebagai penenang dan mensejajarkan posisi kami, saya berucap, "A, bunda dulu juga pernah merasakan tertinggal barang yang penting seperti aa, rasanya sedih banget. Padahal waktu itu bunda sudah menyiapkannya dari semalam. Tapi karena bunda tidak menyimpan barang yang sempat bunda keluarkan dengan segera jadi tertinggal deh kelupaan. Nah sejak saat itu bunda akan segera menyimpan barang pada tempatnya dengan segera sebelum lupa".
Hikmah yang bisa diambil adalah komunikasi produktif dengan mengganti nasihat menjadi refleksi pengalaman. Karena jika dalam keadaan lelah dan kecewa menasihati apalagi menyalahkan akan semakin tidak efektif dan pesan yang disampaikan akan terpental.
Huallahu'alam bishawab...
Kota Angin, 02112017
#Hari1
#Gamelevel1
#Tantangan 10 hari
#Komunikasiproduktif
#Kuliahbunsayiip
No comments:
Post a Comment