Monday, November 6, 2017

Love Never Dies

PEREMPUAN TUA DAN PONSEL PINTARNYA
Dhevi Fitriyani

Untuk kesekian kalinya kulihat perempuan tua itu duduk diteras rumahnya dengan tasbih ditangan dan ponsel pintar dihadapannya. Sesekali ia melirik ponselnya untuk memastikan adakah panggilan masuk atau sekedar pesan singkat yang yang dapat dibaca. Sepertinya ia sedang menunggu telepon seseorang, namun entah siapa.
          Wajahnya  tak lepas dari senyum keramahan tiap kali para tetangga melewati rumah sederhana bercat putih bersih itu. Tak segan ia berbagi cerita dengan siapa saja yang mengajaknya bercakap-cakap. Dari balik jendela kulihat ia begitu riang dan antusias memperlihatkan foto-foto anak dan cucu yang ada dalam ponsel pintarnya.
          Bila rindunya membuncah pada mereka, ia cukup melihat foto-foto mereka dalam ponsel pintarnya seperti yang diajarkan oleh Ahmad, anak keduanya. “nanti kalau mak rindu sama kami tinggal pandangi saja foto-foto yang sudah saya simpan dalam album ponsel ini, mak”, ucap Ahmad tempo hari. “bahkan mak bisa ngobrol sama kami kapan saja mak mau, nih begini caranya….”. Dengan telaten Ahmad mengajari ibunya cara menghubungi seseorang.
Bukan mengerti yang mak Ijah dapatkan, melainkan puyeng, lah wong otak sepuh kok disamakan sama anak zaman sekarang! Namun kata-kata itu urung ia ucapkan dihadapan anaknya, cukup dalam hati saja. ia ingin anak-anak tenang meninggalkannya dikampung. Bukankah dengan memberikan ponsel pintar padanya, itu artinya mereka selalu berusaha ingin membahagiakannya? Memberikan kemudahan kepadanya untuk bisa berkomunikasi dengan anak dan cucunya.
Bila rasa bosan menyergapnya, ia  pasti bertandang ke rumah Mak Anah yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya. Tak lupa tentunya dengan “benda keramat” yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Ia masih terlihat bugar walau keriput diwajahnya tak dapat menyembunyikan usia senjanya. Lagi-lagi, walau obrolan dengan sahabatnya membuat bahunya terguncang karena terkekeh, namun hal itu tak membuat ia lupa untuk sesekali melirik ponselnya.
Perempuan tua itu sebenarnya tidak sebatang kara. Ia memiliki lima anak.  Setelah kepergian suaminya lima belas tahun yang lalu, ia harus banting tulang menyekolahkan anak-anaknya dengan hasil jualan nasi kuning setiap pagi. Uang pensiunan suaminya sebagai seorang guru agama tentu tidak cukup untuk mengantarkan kelima anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan kedisiplinan yang ia tanamkan kepada anak-anaknya, usaha yang tiada mengenal lelah serta penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Maha Memberi, membuat ia dan anak-anaknya dapat menjalankan skenario Tuhannya dengan baik. Ia baru berhenti berjualan tiga tahun yang lalu, itupun karena dipaksa oleh anak-anaknya ketika mereka terakhir kali dapat berkumpul pada lebaran Idul Fitri.  
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Kelima anaknya bisa dikatakan sukses. Aisyah, anak tertuanya kini  tinggal bersama suaminya di Jepang. Anak keduanya, Ahmad, menetap di kota Metropolitan dan berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi ternama. Sementara Rahma seorang desainer terkenal, kini tinggal di Paris demi mengembangkan karirnya dibidang fashion. Anak keempatnya, Fatih adalah seorang pengusaha batubara sukses di Merauke. Serta si Bungsu Fatimah, adalah seorang bidan desa dan satu-satunya anak yang tinggal bersamanya. Walau tidak satu rumah namun masih terbilang dekat, hanya terpaut satu desa.
Berkali-kali perempuan tua itu diajak untuk tinggal bersama keluarga kecil Fatimah. Namun perempuan tua itu lebih memilih untuk tetap tinggal di rumahnya dengan alasan tak ingin merepotkan anaknya. Kendati tak ada satupun dari kelima anaknya yang dapat menemaninya, sepertinya  ia sudah cukup bahagia dikelilingi oleh saudara dan tentunya Mak Anah, satu-satunya sahabat yang masih hidup. Tak jarang mereka membercandai keawetan usia senjanya.  
“Jah, kira-kira siapa ya diantara kita yang akan meninggal duluan?”
“Ya, kalau nggak aku, ya kamu yang duluan,” Jawab Mak Ijah terkekeh.
“Kalau aku jadi kamu, aku akan memilih untuk tinggal bersama anak-anak daripada harus tinggal sendirian di desa. Kan enak bisa jalan-jalan ke luar negeri”. Mak Anah mensejajari posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Mak Ijah.
“Loh? Siapa bilang aku sendirian? Trus kamu siapa? Jurig kitu?” canda Mak Ijah
“Ah kamu Jah, aku serius nih! gimana coba nanti kalau kamu  meninggal di dalam rumah sementara tidak ada satu orangpun yang tahu, kan bisa berabe urusannya.” Ucap Mak Anah masih dengan raut muka serius.
“Anah…Anah…Jodo, pati, bagja jeung cilaka mah anging Allah anu ngatur, saya mah cuma bisa berdoa supaya Allah memanggil saya dalam keadaan Husnul Khotimah. Tidak merepotkan siapapun. Itu saja keinginan saya mah”. Dengan logat sunda yang kental Mak Ijah menepis kekhawatiran sahabatnya.
***               ***               ***
 Jam menunjukan pukul tiga dini hari. Kendati Fatimah menyetel ponselnya sebagai alarm, namun sepertinya Mak Ijah sudah dapat terjaga dari mimpinya sebelum alarm itu berbunyi, semua karena terbiasa. Mak Ijah bangun dari pembaringannnya. Untuk beberapa detik ia duduk dipinggir dipan lalu melangkah menuju pancuran belakang rumah yang airnya mengalir langsung dari mata air pegunungan. Terasa menggigil bagi yang belum biasa, namun bagi mak Ijah, dinginnya air yang menyusup sampai ke tulang merupakan obat mujarab bagi mata untuk terus terjaga melaksanakan qiyamullail. Berdialog dengan Sang Maha Pemberi.
Adzan subuh berkumandang, Mak Ijah bergegas pergi ke surau terdekat untuk ikut berjamaah. Setelah tadarus Al-quran biasanya ia akan jalan-jalan menyusuri ladang dan sawah sambil menghirup udara pagi dengan senyum mengembang. Namun, ada yang aneh untuk hari ini. Selepas tadarus, badannya terasa lemah dan kepalanya sedikit lebih berat. ia merebahkan kembali badannya diatas sajadah dengan tasbih dan ponsel pintar disampingnya.  Rindu pada anak-anaknya kian membuncah, namun tak ada yang dapat ia lakukan selain membuka galeri ponsel dan memandangi mereka satu persatu diiringi doa terbaik yang terus ia lafalkan di mulutnya. Pluk! Ponsel pintar itu terjatuh menimpa wajahnya.
***               ***               ***
          “Kini tinggal aku, Jah, sendiri….”, ucap Mak Anah penuh sendu memandangi foto sahabatnya. “Mak kalian itu hebat, ia sangat tidak ingin merepotkan kalian walau sejenak. Kalian tahu, walau ponsel yang kalian berikan itu selalu dibawa kemanapun ia pergi, itu bukan semata-mata untuk pamer, ia hanya ingin manakala kalian menelepon mak selalu siap angkat telepon kalian. Namun nyatanya berbulan-bulan tak ada satupun dari kalian yang membuat ponselnya berdering. Mak kalian hanya ingin kapanpun dan dimanapun ia berada akan merasa dekat walau hanya memandangi foto kalian dalam ponselnya”.
“Maafkan kami maaaaak….”, jerit anak-anak mak Ijah tak terbendung lagi.

***               ***               ***





















1 comment:

  1. Plot of the story is good and diction is too. The plot of the story doesn't dificult for we understand and diction doesn't either. The structure of this story is complete from the orientation complication reorientation and resolution.especially part complication, problem of the story is very close to life in the present day. So many people don't care with they parents and this story making the readers aware to always care to parents anytime

    Windy fahira

    ReplyDelete