Thursday, November 2, 2017

Long Distance Relationship

HINGGA AKU LUPA WAJAHMU
Dhevi Fitriyani

    “Ayah nanti jangan lupa kalau sudah sampai Sidney sering-sering video call bunda ya”, pintaku manja diselingi dengan isak tangis tak tertahankan.
    “tenang bunda, itu pasti”, jawab Pram, suamiku. seraya memelukku erat dan menyeka air mataku yang menganak sungai.
    “udah atuh jangan nangis terus, malu. hibur suamiku. aku pasti akan kembali sayang, setelah tugas ini kutunaikan, nggak lama kok. Mudah-mudahan tahun depan kalian bisa ikut ayah. banyak berdoa semoga Allah mudahkan semua urusan kita. Jaga diri baik-baik dan jaga buah hati kita.
    Sejenak mata kami bertatap satu sama lain. Saling menguatkan, saling meyakinkan.
    Untuk dua tahun kedepan, Pram harus meninggalkan aku dan dua buah hati kami. tugas belajarnya di Sidney membuat kami harus berpisah sejenak. Dan aku tak mungkin ikut bersamanya saat ini, selain harus mengurus perizinan dari kantorku, sulung kamipun baru saja masuk sekolah dasar. Rencananya, tahun depan kami akan menyusulnya. Semoga semuanya dimudahkan.
    Perpisahan ini sungguh terasa menyesakkan, mungkin karena ini pengalaman pertamaku berpisah dengan suami dalam tujuh tahun usia pernikahan kami.

PERTEMUAN PERTAMA
13 silam, diluar kamar terdengan suara sang ketua asrama memperingatkan untuk segera menggunakan hijab karena ada tamu laki-laki. Ketika pintu kamar kost terbuka, kulihat pria berkaca mata dengan potongan rambut belah tengah hadir tepat didepanku. Setelah dia menjelaskan siapa dirinya dan apa maksud kedatanyannya, kupersilahkan ia masuk.
“Ini si aa yang pernah Fia ceritakan tempo hari, teh”, jelas Fia teman satu kost ku, adik kelas satu tingkat di kampus. Fia adalah mahasiswa baru yang kutemui ketika Masa Orientasi Mahasiswa Baru, kebetulan aku adalah mentornya. Kala itu dia masih tinggal sementara di rumah bibinya di Cimahi. dia masih kebingungan mencari kamar kost yang lumayan dekat dengan kampus. Sementara, saat itu kostan yang ia inginkan sudah penuh. Pucuk dicinta ulam pun tiba, sebuah kebetulan aku juga sedang mencari teman sekamar, sebab aku termasuk anak yang penakut jika harus tinggal sendirian.
Hari itu Fia sedang sakit, sudah tiga hari demamnya tak kunjung turun. Fia menelofon ibunya, kebetulan aa nya yang kuliah di Yogja sedang pulang. maka diutuslah sang kakak.
Kala itu aku sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Pakaian dan jilbabku sudah rapih sehingga aku tak perlu morat-marit tatkala teman-temanku memperingatkan untuk menggunakan jilbab dengan segera karena akan ada laki-laki masuk kamar. Sebuah kebetulan, adikmu terbaring tepat di depan lemariku yang kala itu paling “rame” karena banyak tulisan dan stiker tertempel disana. Maklumlah, jika aku kehabisan media untuk mencurahkan hobiku maka lemariku yang jadi sasarannya.
    Pintu kamar masih terbuka. Kamu dan adikmu tengah berbincang ketika aku mohon pamit untuk ambil sesuatu dalam lemariku. Jailnya, teman-temanku mengejekku kalau aku sengaja “caper” sama kamu. Hadeuuh…ada-ada aja mereka. Mungkin karena aku seneng godain orang, akhirnya mereka juga seneng godain aku hihi..tapi dasar si aku, bukannya GR digodain aku malah nyengajain biar keliatan salting dan tertarik sama kamu..aku bilang sama temen-temen…”ihhhh…bete (belah tengah) nya itu loh nggak nahaaan…sambil kukerlip-kerlipkan sebelah mataku.
    Aku pamit pada Fia dan kakaknya untuk pergi ke kampus. Sekilas kulihat  senyum nakal Fia dan senyum manis kakaknya. “Apa sih maksud senyum Fia?” tanyaku dalam hati. Ah..tak kuhiraukan.


AKU LUPA WAJAHMU

Suatu hari ada SMS masuk ke ponselku yang mengatakan “nitip Adiku, Fia ya...”. sejenak kukeryitkan dahi. adiku? Fia? berarti ini sms dari kakaknya Fia yang tempo hari datang kemari? beberapa pertanyaan berkelebat dalam benakku. Fia pernah bercerita kalau dia hanya memiliki satu kakak laki-laki, Pram namanya. “Mangga”, balasku singkat.
Responku saat itu biasa saja tidak ada yang melonjak-lonjak dalam hati ini. Karena memang saat itu aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Singkat cerita, aku dapat surat yang diantarkan Rudi, sahabatku di asrama putra. Tertulis A. PERMANA. Sejenak aku tertegun A.PERMANA siapakah dia? Kubuka dan kubaca, owh ternyata dari kakaknya Fia. Tapi kok tertulis nama A. Permana? bukannya nama kakaknya Fia itu Pram? ah..aku masih malu untuk bertanya pada Fia. Maksud dan tujuanmu surat tersebut adalah sekedar berkenalan. Kubalas dan mengalirlah surat-surat berikutnya.
    Entah kenapa Allah gerakkan hatiku untuk merespon suratmu, padahal jika diingat saat itu aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang.        Dari sekian surat yang pernah kau kirimkan untukku, aku tahu jika kamu pernah menjalin hubungan serius dengan seseorang bahkan kamu menjadikan dia sebagai sosok calon istrimu kelak. Namun apa daya, takdir tidak mempersatukan kalian. Kau bilang, hingga pertemuan pertamamu denganku, membuatmu sulit menghapus ingatanmu tentangku. Maka sejak saat itu tanpa aku tahu, kamu rajin bertanya tentang siapa aku, bagaimana keseharianku dan segala macam tentangku pada adikmu.
    Enam bulan berlalu setelah pertemuan kita, Sesungguhnya aku lupa wajahmu. tapi aku juga malu jika harus minta foto pada adikmu. Karena aku masih belum yakin dengan apa yang aku rasakan padamu. Namun entah mengapa, semakin hari, ada getar lain setiap kali aku baca surat darimu. ada rasa lainbahagia yang menyelusup manakala kau sms aku, walau sekedar say halo. Oh..apa ini yang namanya cinta?
    Puncaknya, ketika kamu mengabarkan padaku via sms bahwa kamu mengundangku dalam acara wisuda. oh, aku gelagapan. Kuberanikan diri bercerita pada Fia tentang surat, sms-sms kakaknya dan tentang kelupaanku akan wajah kakaknya. Fia terkekeh, “Fia sengaja loh teh selama ini nggak nawarin teteh fotonya aa, karena Fia takut teteh nggak suka sama aa Pram. Fia juga pura-pura nggak tahu kalau teteh dapet surat dari aa, padahal aa ngabarin sama Fia. Aa bilang, respon teteh masih biasa-biasa aja. Aa hawatir teteh nggak nerima cinta aa”.
    “Ih...Fia jahaaat, ngebiarin teteh kebingungan”, kucubit lengannya. Fia meringis. sejurus kemudian Fia terbahak. “Pasti teteh bingung ya antara A. Permana dan Pram?
    “ih, kok tahu sih?”
    “Ya tau dong”, kilah Fia menang.
    “Jadi nama asli si aa itu Ahmad Permana, panggilannya Pram”, jelas Fia. seperti namaku Siti Fathiya, panggilanku Fia”.
    “Nih fotonya teh, biar teteh nggak lupa lagi. Minggu depan sebelum acara wisuda rencananya si aa mau dateng ke sini nemuin teteh. Sok pandangin fotonya. Jangan salah orang ya?” Goda Fia.
    Kuterima foto Pram dari Fia, pipiku sepertinya sudah mulai seperti udang rebus deh...
    18 November 2004 kau tepati janjimu menemuiku. Ada rasa canggung dan debar jantung yang sulit kukendalikan. Ah...dulu foto yang menjadi obat pelipur kangen, kini zaman lebih canggih, time for video call kan menjadi waktu yang kunanti untuk satu tahun kedepan.

Kota Nanas Penuh Kenangan...

No comments:

Post a Comment