(Azam, Ayang, Syafieq, Fajri)
Alhamdulillah pagi hari ini sewaktu bangun tidur badan sudah agak enakan, sudah tidak demam dan sakit kepala lagi tingga flu dan batuk yang biasanya memang agak awet. Weekend kali ini kami kedatangan adik ipar yang tinggal di Jakarta. Ia datang bersama suami dan anaknya yang baru berusia 2 tahun.
.
Kedatangan mereka membuat ramai suasana rumah kami yang kebetulan satu atap dengan mertua. Ketika para cucu mertua saya (Fajri 10y, Azam 9y, Ayang 5y dan syafieq 2y) sedang asyik bermain melepas rindu, saya menghampiri mereka. Saya tahu, jagoan saya suka gregetan sama syafieq, bahkan saking gregetannya tidak jarang setengah memaksa untuk sun sayang atau menjembel pipinya sampai merah bahkan sampai si anak kecil menangis. Dan jelas itu membuat ibunda syafieq jengkel. Untuk menghindari drama bentak dari ibunda syafieq (saya memaklumi dan berhusnudzon mungkin dia belum memiliki ilmunya sebagaimana saya sebelum mengenal IIP) atau kata-kata yang membuat si jagoan makin 'menjadi' maka saya dampingi mereka bermain sambil tak lupa selalu sounding jagoan saya untuk berlemah lembut sebagai tanda sayang kepada adik-adik spupunnya.
"aa soleh, lemah lembut ya..." ucap saya manakala mulai terlihat si jagoan gregetan.
"aa soleh, lemah lembut tanda sayang"
"aa soleh, bunda ingin aa lemah lembut sama syafieq"
dan jawaban si jagoan "iya bunda"
.
Tapi bada isya ketika mereka (para cucu) sedang asyik bercengkrama lagi, terdengar tangis syafieq karena terlalu keras dijembel pipinya oleh fajri. Dengan intonasi suara rendah dan tatapan mata yang lembut, saya bilang, "a, kan bunda sudah ingatkan, boleh sun tapi dengan lembut. Syafieq kan masih kecil, kasian kesakitan"
"iya bunda, maaf aa berlebihan. abis greget sih syafieqnya lucu".
"iya tapi bukan berarti boleh keras-keras"
Saya segera menyuruhnya untuk meminta maaf kepada bundanya syafieq dan meminta janjinya untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi.
bergegas jagoan saya minta maaf pada tantenya.
.
Done!
.
Jujur, dulu sebelum saya mengenal ilmu komprod dari IIP ini saya sering terbawa emosi manakala mendapati si jagoan membuat anak adik ipar saya menangis, antara malu kalau saya tidak bisa mendidik si jagoan dengan baik dan jengkel dengan perilaku si jagoan yang menggunakan kekerasan dalam bermainnya, tak jarang saya membentak si jagoan sebagaimana tantenya juga marah. Astaghfirullah...Ya Allah...ampuni saya...nak, maafkan bunda ya...
.
Kini, saya sadar, terkadang kita harus memberikan ruang maaf yang luas kepada orang disekitar kita yang merespon tindak tanduk anak kita dengan respon yang berlebihan dan tidak sesuai dengan ilmu parenting. Husnudhon dan tahan emosi. Kemudian sedikit demi sedikit kita transfer pemahaman mendidik anak agar generasi kita, generasinya dan generasi bangsa ini bukan termasuk generasi yang terbiasa dengan kekerasan verbal sehingga kekerasan verbal itu turun temurun mereka lakukan lagi pada generasi dibawahnya. Kalo bahasa lainnyamah "bullying" alias mengolok-olok.
.
Tidak sedikit saya dapati anak-anak di sekitar rumah yang dengan seenaknya membuly kesalahan temannya dengan kata-kata kasar seperti yang orang tua mereka contohkan. Semoga pendampingan saya dalam menyeleksi lingkungan bermain, teman-teman bermainnya dan aktifitas yang dilakukan jagoan saya tidak termasuk sesuatu yang berlebihan, melainkan saya sedang meminimalisir bentuk kekerasan verbal yang ditularkan teman sepermainannya kepada jagoan saya. Semoga Allah rihdo.
.
Huallahu 'alam bishawwab...
Kota angin, 11112017
#hari10
#gamelevel1
#tantangan 10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

the stroy is very inspiring the readers especially mother. i'am amazed by how the author educates his son. we know how to deal a child. don't by violence but with gentleness. making the readers aware that mother should be smart and a lot of a knowledge. but i think words of menjembel does understand and neither does sun. stukture of the story is sequenced from the start orientation event and reorientation
ReplyDeleteWindy fahira