Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un...ya Allah, setelah kemarin tanggal 9 Januari 2021 mendapat kabar kecelakaan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 jurusan Jakarta - Pontianak, kini Indonesia bahkan dunia dibuat bersedih kembali dengan wafatnya Syekh Ali Jaber. Seorang alim ulama yang darinya kita banyak belajar tentang keikhlasan, tentang ketiadaan dendam di dadanya meskipun tempo hari beliau hampir saja menjadi korban penusukan orang tak dikenal. Darinya kita bisa belajar tentang memaafkan orang yang menhzalimi kita. Darinya pula kita bisa belajar tentang kesabaran.. Ya, berhari-hari beliau harus berjuang melawan rasa sakit akibat serangan virus Covid 19 yang sedang mewabah di negeri kita ini.
Syekh Ali Jaber satu dari sekian 'alim ulama yang Allah panggil baru-baru ini. Teringat sabda Rasulullah yang artinya : "Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama. (H.R. Al-Thabrani dalam Mujam Al-Kabil dan Al-Baihaqi dala Syu'ab Al-Iman dari Abu Darda')
Banyak beredar di medsos profil pilot Sriwijaya Air SJ 182, dan dari sekian banyak kisah aku tertuju pada kebaikan semasa hidupnya yang dikenang banyak orang. Bukan hanya satu bahkan hampir tak terhitung jari. Keluarganya, tetangga dan orang-orang di lingkungannya, rekan kerjanya bahkan profil whastapp terakhir beliau adalah gambar salah satu icon pahlawan pembela yang dikenal oleh hampir sebagian orang di dunia ini mulai dari anak kecil hingga orang dewasa karena kebaikan yang selalu dilakukannya. Icon pembela kebenaran, kuat, gagah dan tampan. Diala Superman. Namun gambar yang disajikan tidaklah seperti biasanya, bukan pose sedang memamerkan otot kuatnya ataupun tampang tampannya. Melainkan sedang duduk bersimpuh melaksakan shalat. Lalu tertulis sebuah quote disampingnya "Setinggi apapun aku terbang tidak akan masuk surga jika tidak shalat". Masyaa Allah, sungguh pemandangan yang menyentuh hingga ulu hati. Seorang pilot yang jam terbangnya sudah tak diragukan lagi, seorang pilot yang terkenal dengan ketampanan, kegagahan dan kepiawaiannya menerbangkan kuda besi mengingatkan dirinya sendiri -- yang sesungguhnya untuk kita semua -- bahwa kebaikan apapun yang kita lakukan tidak akan membuat kita menuju surga jika tidak shalat, karena shalatlah pondasinya.
Ketiadaan kapten Afwan dan Ustadz Ali jaber ini, membuatku tersadar, mereka sudah tenang dengan segudang kebaikan yang dipersaksikan semasa hidupnya oleh orang-orang disekitarnya. Lalu akan dikenang sebagai apakah diri al-faqir ini?? dalam keadaan seperti apakah diri al-faqir ini ketika melepas ajal nanti? apakah semua yang ditinggalkan akan mempersaksikan kebaikan ataukah sebaliknya?? Ya Rabb.....ighfirlii...beri aku kesempatan untuk terus memperbaiki diri dan berikanlah akhir hidup Husnul Khatimah. Jangalah Kau cabut nyawa ini dalam keadaan tidak beriman kepada-Mu Ya Allah....dan jadikanlah anak dan keturunanku menjadi Ulama pewaris para Nabi. AAmiin Yaa Mujibasaailiin
.
HuallahuAa'lam Bishawab
#KelasLiterasiIbuProfesional
#KLIPJanuari
.
No comments:
Post a Comment