Saturday, January 16, 2021

Manusia dan Kesehatan Lingkungan #Part 2

 Bismillahirrahmanirrahiim...

.

Realitas Lingkungan Saat Ini

     Hubungan antara manusia dengan alam, atau hubungan dengan manusia dengan sesamanya, bukan antara penakluk dan yang ditaklukan, atau antara tuan dengan hamba, tetapi hubungan kebersamaan dalam ketundukan kepada Allah, SWT. Senada denga itu, Quraish Shihab (2003 : 295) mengatakan bahwa kemampuan manusia dalam mengelola alam ini bukanlah akibat kekuatan yang dimilikinya, tetapi merupakan anugerah Allah, SWT. Hal itu tergambar antara lain dalam surat Ibrahim ayat 32 dan Al-Zukhruf  ayat 13.

     Kendatipun demikian, masih banyak manusia yang belum memahami serta mengamalkan ayat-ayat Allah tersebut diakibatkan oleh keserakahan manusia. Padahal, dalam Al-Quran telah dijelskan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki berbagai macam potensi sebagai fitrah untuk dijadikan modal yang harus diarahkan dan diwujudkan dalam tindakan dan perwujudan nyata berupa amal saleh, sebagimana pendapat Murthadha Muthahari yang disitir oleh Asep Muhyiddin dan agus Ahmad Safei (2002 : 17).

     Salah satu bukti keserakahan manusia adalah "menjamurnya" proyek penebangan hutan secara liar serta tidak adanya penanaman kembali (reboisasi) hutan-hutan yang telah digunduli tersebut. Akibatnya, banjir dan wabah penyakit pun tidak dapat dielakkan lagi. hal tersebut diperparah oleh dampak negatif dari kemajuan di bidang sains dan teknologi. Hutan yang sejatinya dilestarikan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kelangsungan hidup manusia, kini disulap menjadi vila-vila indah yang notabene kebanyakan dari pemiliknya adalah non muslim. Laut yang semsestinya dijadikan sarana bersyukur manusia kepada sang Khalik dengan cara melestarikan dan memanfaatkan ekosistem yang hidup di dalamnya, telah ikut tercemar oleh limbah pabrik dan racun kimia yang dihasilkan oleh bahan peledak ikan.

     Berbicara mengenai keserakahan manusia, al-Quran telah menerangkandalam surat Al-Furqan ayat 43:  Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?"

     Dan pada ayat berikutnya, Allah mengumpamakan manusia yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya hanya untuk kesenangan duniawi semata, bagaikan binatang ternak bahkan lebih sesat (Al-Furqan :44) 

 "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu menjadi pemelihara atasnya?"

     Dan pada ayat berikutnya, Allah mengumpamakan manusia yang senantiasa, bagaikan binatang ternak bahkan lebih sesat (Al-Furqan : 44)

     Munculnya fenomena kerusakan alam, menunjukkan ketidakharmonisan hubungan manusia dan alam raya. Hal tersebut sesuai dengan isyarat Al-Quran dalam surat ar-Ruum, ayat 43 :

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena tangan manusia, supaya Allah mrasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)". 

     Sekaitan dengan hal itu, Imam Ali r.a berkata :

     Malaikat dianugerahi akal tanpa syahwat, hewan dianugerahi syahwat tanpa akal, dan manusia dianugerahi keduanya. Maka jika akalnya mengungguli syahwatnya niscaya dia berada di atas malaikat, namun jika syahwatnya mengungguli akalnya niscaya dia lebih hina dari binatang.

     Dari pernyataan di atas, terkandung makna bahwa sudah saatnya bagi manusia untuk memposisikan dirinya sebagai khalifah Allah di muka bumi ini dengan memaksimalkan potensi akal dan hatinya dalam mengelola alam raya ini, sesuai dengan tujuan penciptaannya. (QS. ad-Dukhan (44): 38; QS. al-Ahqaf(46): 3).


#KelasLiterasiIbuProfesional

#KLIPJanuari2021

     

     

     

No comments:

Post a Comment