Monday, October 8, 2018

MelatihKemandirian#Level2#Day5

Bismillahirrahmanirrahiim...
.
Bersiap Mengisi Galon Kosong



Lampu tanda peringatan dispenser dirumah kami  telah menyala, itu tandanya isi galon telah menipis. Artinya, maksimal 2 hari kedepan aku sudah harus membeli air isi ulang galon baru. Biasanya, aku tinggal menelepon pak suami, kemudian pak suamilah yang menghubungi tukang galon yang biasa melayani delivery. Walau sebenarnya aku tak tahu dimana tepatnya toko tersebut. Yang kutahu, tukang galon datang mengantarkan atas perintah suamiku
.
Namun kali ini, dalam rangka melatih kemndirianku, sore sepulang dari sekolah kuberanikan diri menanyakan  tukang galon terdekat yang bisa delivery pada tetangga terdekatku. Ia memberikan nomor teleponnya. Sebenarnya tak jauh dari rumahku ada toko gas yang biasa aku beli, disitu juga ada beberapa galon asli dengan berbagai ukuran dan merk, tapi tetanggaku bilang mereka tak menerima delivery, entah sebab terlalu repot karena terbatasnya karyawan atau entah ada alasan lainnya.
.
Beruntungnya aku pernah hidup bersama mertua yang sayang sekali padaku dan anakku. 12 tahun bukan waktu yang sebentar untuk belajar banyak tentang ilmu kerumah tanggaan dari beliau. Kendatipun beliau bukanlah wanita karir, bukan pula seorang sarjana lulusan perguruan tinggi terkenal manapun. Beliau hanyalah lulusan Sekolah Dasar, namun ilmu kerumahtanggaan beliau tentu tak bisa dianggap remeh. Berkaitan dengan air, salah satu ilmu yang aku petik dari beliau adalah membedakan antara air galon yang diminum dan air galon untuk memasak. Ya, di daerahku hampir seluruh rumah sudah menggunakan air PDAM. Yang pastinya semua orang juga sudah mengetahui jika air PDAM tentu mengandung banyak kaporit dan itu rasanya tidak baik jika sampai di perut untuk dikonsumsi. Air sumur di daerah kami juga mengandung kadar kapur yang tinggi sehingga kurang ramah di lidah jika harus dikonsumsi.


Memang...konsekwensinya tentu kami harus merogoh saku lebih dalam untuk hal ini. Namun bagi kami, lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan? Apalagi sepertinya hal ini tak terlalu merogoh dalam saku uang belanjaku, secara aku kan hanya berdua dengan jagoan sholehku.
.
Maka sejak kepindahanku ke rumah ini, aku praktekkan ilmu "turunan" dari mertuaku ini, yakni menggunakan 2 galon. Untuk minum sehari-hari aku menggunakan galon asli, sedangkan untuk memasak aku menggunakan galon isi ulang. Untuk galon minum aku hanya butuh mendorong saja menuju dispenser, sedangkan galon untuk memasang agak membutuhkan tenaga yang ekstra juga karena harus kutuangkan dulu pada botol sebelum aku gunakan agar tidak setiap waktu aku menghabiskan energi untuk mengangkat galon yang beratnya tentu setara dengan berat badanku ya...hahaha...
.
Oya kembali pada latihan kemandirianku soal air, dua hari kedepan akan kucoba untuk menangani sendirisoal "pergalonan" ini. Selanjutnya aku tinggal melaporkan pada "nahkoda keluargaku". Bismillah....
.
Fabiayyi Alairobbikuma Tukadziban...

#HariKe5
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

No comments:

Post a Comment