Bismillahirrahmanirrahiim....
Sepertinya tantangan hari kelima hingga empat belas akan semakin menengok lebih dalam dan lebih detail emosi yang dihadirkan. Maasyaa Allah....
Setelah aku tuangkan dalam sebuah jurnal emosi yang hadir hari ini, lalu aku kan menceritakan insight atau pembelajaran (aha moment) yang aku peroleh setelah mengisi tabel jurnal emosi hari ini.
Aku menuliskan angka sepuluh untuk penilaian perasaanku hari ini. Tentu hal ini beralasan sekali. Setelah hidup berumah tangga terlebih ketika hadir buah hati rasanya hampir tak pernah lagi aku menghabiskan waktu berdua di luar rumah bersama ibu seperti yang selalu kami lakukan dulu sebelum aku menikah. Terlebih aku tinggal di luar kota yang bisa pulang kampung paling cepat dua minggu sekali atau satu bulan sekali di pengujung pekan, alias weekend. Belum lagi kepulanganku selalu menjadi ajang berkumpul bersama adik dan keponakan-keponakanku yang masih imut-imut. Jadilah minggu pagi waktu kami masak dan beberes rumah bagi para ciwi-ciwi dan ajang mancing bagi para bapak-bapak. Sementara bocil-bocil lebih memilih berenang dan bermain air di kolam yang ada di sekitar rumah orang tuaku.
Ayah dan ibu baru dua tahun menetapi rumah keluarga di Kuningan saat ini setelah sejak 2010 dinas keliling pulau, mulai dari pulau Jawa hingga Sulawesi. Ibu pensiun di tahun 2010 bertepatan dengan peralihan dinas ayah ke luar kota. Maasyaa Allah, mengingat hal itu aku selalu takjub. Allah benar-benar telah mengatur segalanya. Jika menurut manusia itu sebuah kebetulan, maka tidak ada sebuah kebetulan bagi Allah. Semua telah tertulis di lauhul mahfudz. Alhamdulillah hingga kini ibu masih terus mendampingi ayah.
Untuk dua tahun di kampung halaman saat ini, bukan kali pertama memang bagiku dan ibu jalan pagi menyusuri sawah, menghirup udara pagi hingga sekedar pepotoan dibawah indahnya gunung Ciremai. Namun, seringkali kami berjalan-jalan bersama ramai-ramai. dan jarang pula aku setenang tadi pagi curhat sama ibu, berpelukan, bergandengan tangan, ah...berasa banget aku anak gadisnya ibu seperti dulu.
Alhamdulillah bini'mati tatimmusholihaat...ingin rasanya terus berusaha menghadirkan senyum dan kebahagiaan di wajah ayah dan ibu walau hanya dengan kehadiran kami ditengah-tengah mereka. Karena sesungguhnya bukan materi yang mereka butuhkan, melainkan hadirnya kita menjadi pelipur dimasa senjanya. Insya Allah.
#bundasayang8
#institutibuprofesional
#ibuprofesionaluntukindonesia
#bersinergijadiinspirasi
#ip4id2023




No comments:
Post a Comment