Monday, February 3, 2020

Mengikat Makna#Empati
.
Empati sering disebut sebagai kepedulian. Empati juga sangat erat hubungannya dengan kesediaan berbuat baik (altruisme). Berfikir empati itu baik. Tapi itu tidak cukup. Perasaan empatinya juga harus tumbuh.
.
Banyak orang yang ketika hanya berfikir empati tanpa mengasah rasanya maka akan kosong action. "Kasihan sih kasihan liat nenek tua yang minta secangkir air putih ditengah terik matahari, tapi ah males belinya, jauh warungnya".
.
Nah, dengan demikian, menurut pengamatan dan penelaahan saya, dari kata empati akan lahir 2 model manusia : pertama, orang yang memiliki empati tapi no action. Kedua, orang yang memiliki empati and then do it now.
.
Sebenarnya setiap hari ada banyak peluang bagi kita untuk mengasah empati itu. Kebetulan hari ini saya disuguhkan tantangan untuk mengikat makna dari kelas Habituasi Sejuta Cinta Ibu Profesional dengan menemukan 3 kebaikan dari 3 orang yang berbeda. Maka tanpa bertujuan riya', izinkan saya menuliskannya.
.
1. Ketika saya mengikuti Diskusi Cinta bersama Buya Yahya dan Bang Haq, akhwat yang duduk di sebelah saya terlihat seperti kebingungan ketika hendak menulis di notebook yang dibagikan oleh panitia. Berkali-kali saya lihat beliau merogoh tas nya dalam-dalam bahkan mengeluarkan seluruh isi tasnya dengan mimik kebingungan. Melihat hal tersebut saya bertanya,
"sedang cari apa, mba?"
"Ini, di godybag saya kok nggak ada pulpennya ya? Perasaan, saya bawa puplen dari rumah tapi dicari-cari dalam tas kok nggak ketemu".
"Oh, mungkin panitia lupa memasukan pulpennya mba atau terlewat. Kebetulan saya bawa juga dari rumah, ini mba boleh pakai".
.
Kulihat senyum ceria dari mba sebelah saya, seraya beliau mengucapkan terima kasih.
.
2. Pulang dari acara diskusi itu, saya pesan layanan ojeg online menuju acara lainnya. Ditengah perjalanan hujan turun. Walaupun perjalanan kami tinggal hitungan menit, tapi nyatanya hujan semakin deras. Maka babang ojeg menghentikan laju motornya dan kami berteduh di warung bersama penumpang motor lainnya. Selang beberapa menit hujan agak menyurut dan babang ojeg berkata sambil menyodorkan jas hujannya,

"mba silahkan pakai jas hujan ya biar bajunya nggak kebasahan".
Karena saya tak melihat jas hujan lainnya, saya bertanya,
"Loh, mas nya gimana?"
"Ga papa mba, saya sudah biasa".
Saya berfikir sejenak seraya melihat situasi hujan. Saat itu hujan tidak terlalu deras tidak juga bisa dikatakan reda, masih rintik-rintik manjah gitu deeh...eaaa😅 dilema. Antara kasihan melihat si mamang ojeg nanti kebasahan, tapi kalo nggak dipake, apa kabar saya, masa mo ketemu orang penting bajunya basah...
Melihat saya seperti galau, mas ojeg berkata,
"Nggak papa mba pakai aja, hujannya hanya rintik kok cuma saya takut baju mba basah masuk gedung yang dituju, pasti mbaknya mo ada acara penting kan...

Maasyaa Allah ni babang ojeg baik bener🤗 Baiklah, akhirnya saya pakai jas hujan atasannya saja.

Beberapa menit kemudian sampailah saya di tempat yang dituju. Karena babang ojeg udah berbuat baik, saya juga nggak mau menyia-nyiakan ladang pahala dong hehe...
"Ambil aja kembaliannya mas, makasih banyak untuk kebaikannya".

Sesungguhnya, kebaikan yang tulus itu benar-benar akan menular😍

3. Pulang dari acara terakhir, saya naik angkot. Turun tepat di depan komplek. Jarak antara gerbang dan rumah tak begitu jauh, maka saya putuskan untuk berjalan kaki saja sambil melepas penat dengan melihat semburat senja sore hari.

Ditengah perjalanan, tepatnya taman pembatas jalan kanan dan kiri, saya melihat ranting yang cukup panjang patah sehingga patahan tersebut menutupi sebagian jalan. Wah bisa menghalangi pengguna jalan nih. Maka saya putuskan untuk mematahkan ranting tersebut dengan cara memelintirnya, diputar-putar cukup lama juga. Setelah terlepas dari pohonnya saya buang ranting tersebut ke arah lebih tengah agar tidak menghalangi para pengguna jalan.

Demikian cerita pengikat makna dari saya, semoga menjadi inspirasi dan dapat diambil hikmahnya...🙏

#Materi1
#HabituasiSejutaCinta
#IbuPtofesional

No comments:

Post a Comment