Thursday, February 6, 2020

HINGGA AKU LUPA WAJAHMU
Vee Humaira

          “Ayah nanti jangan lupa kalau sudah sampai Sidney sering-sering video call bunda ya”, pintaku manja diselingi dengan isak tangis tak tertahankan.
          “tenang bunda, itu pasti”, jawab Pram, suamiku. seraya memelukku erat dan menyeka air mataku yang menganak sungai.
          “udah atuh jangan nangis terus, malu. hibur suamiku. aku pasti akan kembali sayang, setelah tugas ini kutunaikan, nggak lama kok. Mudah-mudahan tahun depan kalian bisa ikut ayah. banyak berdoa semoga Allah mudahkan semua urusan kita. Jaga diri baik-baik dan jaga buah hati kita.
          Sejenak mata kami bertatap satu sama lain. Saling menguatkan, saling meyakinkan.
          Untuk dua tahun kedepan, Pram harus meninggalkan aku dan dua buah hati kami. tugas belajarnya di Sidney membuat kami harus berpisah sejenak. Dan aku tak mungkin ikut bersamanya saat ini, selain harus mengurus perizinan dari kantorku, sulung kamipun baru saja masuk sekolah dasar. Rencananya, tahun depan kami akan menyusulnya. Semoga semuanya dimudahkan.
          Perpisahan ini sungguh terasa menyesakkan, mungkin karena ini pengalaman pertamaku berpisah dengan suami dalam tujuh tahun usia pernikahan kami.
###                       ###                       ###                       ###
13 tahun silam, terdengar kamarku diketuk. Disusul suara ketua asrama putri memperingatkan untuk segera menggunakan hijab karena ada tamu laki-laki. Ketika pintu kamar terbuka, kulihat pria berkaca mata dengan potongan rambut belah tengah hadir tepat didepanku. Ketua asrama menjelaskan siapa dirinya dan apa maksud kedatanyannya, kupersilahkan ia masuk.
“Ini si aa yang pernah Fia ceritakan tempo hari, teh”,
Jelas Fia teman satu kamarku, adik kelas satu tingkat di kampus. Fia adalah mahasiswa baru yang kutemui ketika Masa Orientasi Mahasiswa Baru, kebetulan aku adalah mentornya. Kala itu dia masih tinggal sementara di rumah bibinya di Cimahi. dia masih kebingungan mencari kamar kost yang lumayan dekat dengan kampus. Sementara, saat itu kostan yang ia inginkan sudah penuh.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, sebuah kebetulan aku juga sedang mencari teman sekamar, sebab aku termasuk anak yang penakut jika harus tinggal sendirian.
Hari itu Fia sedang sakit, sudah tiga hari demamnya tak kunjung turun. Fia menelefon ibunya, kebetulan kakaknya yang kuliah di Jakarta sedang pulang. maka diutuslah sang kakak.
Kala itu aku sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Pakaian dan jilbabku sudah rapih sehingga aku tak perlu morat-marit tatkala teman-temanku memperingatkan untuk menggunakan jilbab dengan segera karena akan ada laki-laki masuk kamar. Sebuah kebetulan, Dia terbaring tepat di depan lemariku yang kala itu paling “rame” karena banyak tulisan dan stiker tertempel disana. Maklumlah, jika aku kehabisan media untuk mencurahkan hobiku maka lemarikulah yang jadi sasarannya.
Pintu kamar masih terbuka. Sengaja aku sarapan pagi ini ditengah asrama berbaur bersama teman lainnya. Hal itu kulakukan agar Fia dan kakanya memiliki banyak kesempatan. Usai sarapan, kulihat Fia dan kakaknya masih berbincang. Lalu aku mohon pamit untuk ambil sesuatu dalam lemariku. Jailnya, teman-temanku mengejekku kalau aku sengaja “caper” sama kakaknya Fia. Duuh...ada-ada aja mereka. Kebetulan saat itu pintu kamar tidak tertutup rapat sehingga teman lain masih bisa melihat pemandangan didalam kamarku dan Fia. Saling goda menggoda menjadi hal biasa bagi kami. Sekedar akrabisasi.
Tapi dasar si aku, bukannya GeEr digodain, aku malah nyengajain biar keliatan salting dan tertarik sama kakaknya Fia...aku bilang sama teman-teman,
"Ihhhh…bete (belah tengah) nya itu loh nggak nahaaan", seraya kukerlingkan sebelah mataku pada teman-teman yang menggoda di luar kamar. Padahal sejujurnya, saat itu tak ada rasa istimewa sedikitpun.
Aku pamit pada Fia dan kakaknya untuk pergi ke kampus. Sekilas kulihat senyum nakal Fia dan senyum manis kakaknya.
“Apa sih maksud senyum Fia?”,
Tanyaku dalam hati. Ah..tak kuhiraukan.###                       ###                       ###                       ###

Sejak kejadian tempo hari, tak ada peristiwa berarti apapun tentang senyum aneh Fia yang membuatku sempat penasaran. Fia tak bercerita apapun, demikian juga denganku, tak mencoba untuk mencari tahu.
Sampai suatu hari muncul notifikasi SMS yang masuk ke ponselku.
 “Assalamualaiku, titip Adiku ya...”. sejenak kukeryitkan dahi.
Adiku? Siapa?, tanyaku dalam hati.
“Waalaikumsalam….Adik? Maaf ini dengan siapa ya?”, balasku.
“iya, titip adikku, Fia”. Jawabnya.
Berarti ini sms dari kakaknya Fia yang tempo hari datang kemari? beberapa pertanyaan berkelebat dalam benakku. Fia pernah bercerita kalau dia hanya memiliki satu kakak laki-laki, Yoga namanya.  
  “Mangga, insya allah”, balasku singkat.

###                       ###                       ###                       ###

“Wulan”, teriak seseorang memanggil namaku.
Kuhentikan langkah dan menoleh kebelakang. Rudi, temanku satu fakultas yang juga tinggal di asrama putra, berlari kecil menghampiriku. Dia menyodorkan amplop putih.
“Dari siapa?”, tanyaku.
“meneketehe…”, jawabnya dengan mimik menyebalkan.
Kutinju bahunya.
 “aw”, Dia meringis.
Kuamati nama pengirimnya. Sejenak dahiku mengeryit. Otakku bekerja lebih keras mengingat-ingat daftar nama beberapa teman, saudara atau kenalan ah…otakku buntu. Tak kutemukan satupun.
“nape lo lan, kok kaya bingung gitu?”, tanya Rudi.
“mo tau ajahh...”, kubalas dengan mimik lebih menyebalkan.
Aku berbalik dan mulai melangkah.
Melihat tingkahku, Rudi menjitak kepalaku dari belakang.
“aw…” aku meringis dan berbalik.
Kulihat Rudi terbahak puas.
“sakiiit tauuuu”, teriakku.
Melihat responku, Rudi semakin terbahak.
Kutonjok bahunya lebih kencang.
“aduuuh…sakiit”, Rudi meringis, namun tetap ada tawa dalam ringisannya.
“rasain lo, maen jitak-jitak aja. Sakit tauuu”, balasku.
“abisnya ditanya sombong amat, amat aja kagak sombong”.
“lagian bukan urusan looo”, jawabku.
“tau gitu kagak gue sampein tu surat”
“yeee…”, aku berbalik.
“hei nona, bilang makasih kek sama gue. Kaga ade makasih-makasihnye udah gue sampein juga tu surat”.
“iyee…iyeee….makasyeeeeeh”
“tunggu dulu”, tahan Rudi.
“apa lagi sih?”, aku berbalik menghadapnya lagi.
“masa Cuma makasih doang”
“laaah…trus?”
“ya traktir kek barang teh botol ato apa kek”, jawabnya.
“idiiih…males amat”
“diih…awas ya besok-besok kalo ada surat lagi buat elo kagak gue sampein. Tau rasa lo!!”
“lo ngancem gue?”, tantangku.
“iya”
“emang lo pikir manusia yang ada di asrama putra Cuma lo doang?”
“banyak sih tapi belum tentu juga mereka mau nganterin surat buat lo”
“asal lo tau aja, surat ntu udeh dua hari nginep di kotak surat, tau”. Lanjut Rudi.
“masa sih?”, tanyaku.
“masa sih?”, Rudi menirukan ucapanku dengan mimik mengejek.
“udeh jangan kebanyakan mikir, cepetan gue haus nih udeh dua hari kagak minum nyari-nyari elo buat ngasih ntu surat”. Lanjutnya.
“lebay”
“udeh yuk ngantin, haus gue”.
Mau tak mau, kuikuti langkah Rudi menuju kantin.

###                       ###                       ###                       ###

Sesampainya di kamar, kubuka amplop berwarna putih dan kubaca. Owh ternyata dari kakaknya Fia. Tapi kok tertulis nama M. Pram? bukannya nama kakaknya Fia itu Yoga? ah..aku masih malu untuk bertanya pada Fia. Maksud dan tujuan  surat tersebut tak lebih dari sekedar berkenalan. Kubalas, dan mengalirlah surat-surat berikutnya.
          Entah kenapa Allah gerakkan hatiku untuk merespon suratmu, padahal jika diingat, saat itu aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang.   Dari sekian surat yang pernah kau kirimkan untukku, aku tahu jika kamu pernah menjalin hubungan serius dengan seseorang bahkan kamu menjadikan dia sebagai sosok calon istrimu kelak. Namun apa daya, takdir tidak mempersatukan kalian. 
       Kau bilang, hingga pertemuan pertamamu denganku, membuatmu sulit menghapus ingatanmu tentangku. Maka sejak saat itu tanpa aku tahu, kamu rajin bertanya tentang siapa aku, bagaimana keseharianku dan segala macam tentangku pada adikmu.
          Enam bulan berlalu setelah pertemuan kita, Sesungguhnya aku lupa wajahmu. tapi aku juga malu jika harus minta foto pada adikmu. Karena aku masih belum yakin dengan apa yang aku rasakan padamu. Namun entah mengapa, semakin hari, ada getar lain setiap kali aku baca surat darimu. Ada rasa lain, bahagia yang menyelusup  tanpa mampu kubendung. rasa itu tambah berbunga manakala kudapati notifikasi sms darimu, walau sekedar say halo. Oh..apa ini yang namanya cinta? ah, aku tak berani menebak-nebak.
      Puncaknya, ketika kamu mengabarkan padaku melalui sms bahwa kamu mengundangku dalam acara wisuda. oh, aku gelagapan. Setelah kukumpulkan segenap kekuatan, kuberanikan diri bercerita pada Fia tentang surat, sms-sms kakaknya dan tentang kelupaanku akan wajah kakaknya. Fia terkekeh, 
           “Fia sengaja loh teh selama ini nggak nawarin teteh fotonya aa, karena Fia takut teteh nggak suka sama aa. Fia juga pura-pura nggak tahu kalau teteh dapet surat dari aa, padahal aa ngabarin sama Fia. Aa bilang, respon teteh masih biasa-biasa aja. Aa hawatir teteh nggak nerima cinta aa”.
          “Ih...Fia jahaaat, ngebiarin teteh kebingungan”, kucubit lengannya. Fia meringis. sejurus kemudian Fia terbahak. 
          “Pasti teteh bingung ya antara M. Pram dan Yoga?
          “ih, kok tahu sih?”
          “Ya tau dong”, kilah Fia menang.
          “Jadi gini teh, nama asli si aa itu Muhammad Pramayoga, panggilannya Yoga”, jelas Fia. 
          "sama seperti namaku yang aslinya Siti Fathiya, panggilanku Fia”.
         “Nih fotonya teh, biar teteh nggak lupa lagi. Minggu depan sebelum acara wisuda rencananya si aa mau dateng ke sini nemuin teteh. Sok pandangin fotonya. Jangan salah orang ya?” Goda Fia.
         Dengan malu-mali uterima foto Yoga dari Fia. Aaakh...pipiku sepertinya sudah mulai seperti udang rebus deh...

###                        ###                        ###              ###

          Setelah ijab kabul dilangitkan, kuabadikan panggilan sayangku untuknya, Pram.


Ramadhan, 1438 H

No comments:

Post a Comment