HINGGA AKU LUPA WAJAHMU
Vee Humaira
“Ayah
nanti jangan lupa kalau sudah sampai Sidney sering-sering video call bunda ya”,
pintaku manja diselingi dengan isak tangis tak tertahankan.
“tenang bunda, itu pasti”, jawab Pram,
suamiku. seraya memelukku erat dan menyeka air mataku yang menganak sungai.
“udah atuh jangan nangis terus, malu.
hibur suamiku. aku pasti akan kembali sayang, setelah tugas ini kutunaikan,
nggak lama kok. Mudah-mudahan tahun depan kalian bisa ikut ayah. banyak berdoa
semoga Allah mudahkan semua urusan kita. Jaga diri baik-baik dan jaga buah hati
kita.
Sejenak mata kami bertatap satu sama
lain. Saling menguatkan, saling meyakinkan.
Untuk dua tahun kedepan, Pram harus
meninggalkan aku dan dua buah hati kami. tugas belajarnya di Sidney membuat
kami harus berpisah sejenak. Dan aku tak mungkin ikut bersamanya saat ini,
selain harus mengurus perizinan dari kantorku, sulung kamipun baru saja masuk
sekolah dasar. Rencananya, tahun depan kami akan menyusulnya. Semoga semuanya
dimudahkan.
Perpisahan ini sungguh terasa
menyesakkan, mungkin karena ini pengalaman pertamaku berpisah dengan suami
dalam tujuh tahun usia pernikahan kami.
### ### ### ###
13 tahun silam,
terdengar kamarku diketuk. Disusul suara ketua asrama putri memperingatkan
untuk segera menggunakan hijab karena ada tamu laki-laki. Ketika pintu kamar
terbuka, kulihat pria berkaca mata dengan potongan rambut belah tengah hadir
tepat didepanku. Ketua asrama menjelaskan siapa dirinya dan apa maksud
kedatanyannya, kupersilahkan ia masuk.
“Ini si aa yang pernah Fia ceritakan
tempo hari, teh”,
Jelas Fia teman satu kamarku, adik kelas
satu tingkat di kampus. Fia adalah mahasiswa baru yang kutemui ketika Masa
Orientasi Mahasiswa Baru, kebetulan aku adalah mentornya. Kala itu dia masih
tinggal sementara di rumah bibinya di Cimahi. dia masih kebingungan mencari
kamar kost yang lumayan dekat dengan kampus. Sementara, saat itu kostan yang ia
inginkan sudah penuh.
Pucuk dicinta ulam pun
tiba, sebuah kebetulan aku juga sedang mencari teman sekamar, sebab aku
termasuk anak yang penakut jika harus tinggal sendirian.
Hari itu Fia sedang
sakit, sudah tiga hari demamnya tak kunjung turun. Fia menelefon ibunya,
kebetulan kakaknya yang kuliah di Jakarta sedang pulang. maka diutuslah sang
kakak.
Kala itu aku sudah
bersiap untuk pergi ke kampus. Pakaian dan jilbabku sudah rapih sehingga aku
tak perlu morat-marit tatkala teman-temanku memperingatkan untuk menggunakan
jilbab dengan segera karena akan ada laki-laki masuk kamar. Sebuah kebetulan,
Dia terbaring tepat di depan lemariku yang kala itu paling “rame” karena banyak
tulisan dan stiker tertempel disana. Maklumlah, jika aku kehabisan media untuk
mencurahkan hobiku maka lemarikulah yang jadi sasarannya.
Pintu kamar masih
terbuka. Sengaja aku sarapan pagi ini ditengah asrama berbaur bersama teman
lainnya. Hal itu kulakukan agar Fia dan kakanya memiliki banyak kesempatan.
Usai sarapan, kulihat Fia dan kakaknya masih berbincang. Lalu aku mohon pamit
untuk ambil sesuatu dalam lemariku. Jailnya, teman-temanku mengejekku kalau aku
sengaja “caper” sama kakaknya Fia. Duuh...ada-ada aja mereka. Kebetulan saat
itu pintu kamar tidak tertutup rapat sehingga teman lain masih bisa melihat
pemandangan didalam kamarku dan Fia. Saling goda menggoda menjadi hal biasa
bagi kami. Sekedar akrabisasi.
Tapi dasar si aku,
bukannya GeEr digodain, aku malah nyengajain biar keliatan salting dan tertarik
sama kakaknya Fia...aku bilang sama teman-teman,
"Ihhhh…bete (belah
tengah) nya itu loh nggak nahaaan", seraya kukerlingkan sebelah mataku
pada teman-teman yang menggoda di luar kamar. Padahal sejujurnya, saat itu tak
ada rasa istimewa sedikitpun.
Aku pamit pada Fia dan
kakaknya untuk pergi ke kampus. Sekilas kulihat senyum nakal Fia dan senyum
manis kakaknya.
“Apa sih maksud senyum Fia?”,
Tanyaku dalam hati. Ah..tak kuhiraukan.### ### ### ###
Sejak
kejadian tempo hari, tak ada peristiwa berarti apapun tentang senyum aneh Fia
yang membuatku sempat penasaran. Fia tak bercerita apapun, demikian juga denganku,
tak mencoba untuk mencari tahu.
Sampai
suatu hari muncul notifikasi SMS yang masuk ke ponselku.
“Assalamualaiku, titip Adiku ya...”. sejenak
kukeryitkan dahi.
Adiku?
Siapa?, tanyaku dalam hati.
“Waalaikumsalam….Adik?
Maaf ini dengan siapa ya?”, balasku.
“iya,
titip adikku, Fia”. Jawabnya.
Berarti
ini sms dari kakaknya Fia yang tempo hari datang kemari? beberapa pertanyaan
berkelebat dalam benakku. Fia pernah bercerita kalau dia hanya memiliki satu
kakak laki-laki, Yoga namanya.
“Mangga, insya allah”, balasku singkat.
### ### ### ###
“Wulan”,
teriak seseorang memanggil namaku.
Kuhentikan
langkah dan menoleh kebelakang. Rudi, temanku satu fakultas yang juga tinggal
di asrama putra, berlari kecil menghampiriku. Dia menyodorkan amplop putih.
“Dari
siapa?”, tanyaku.
“meneketehe…”,
jawabnya dengan mimik menyebalkan.
Kutinju
bahunya.
“aw”, Dia meringis.
Kuamati
nama pengirimnya. Sejenak dahiku mengeryit. Otakku bekerja lebih keras
mengingat-ingat daftar nama beberapa teman, saudara atau kenalan ah…otakku
buntu. Tak kutemukan satupun.
“nape
lo lan, kok kaya bingung gitu?”, tanya Rudi.
“mo
tau ajahh...”, kubalas dengan mimik lebih menyebalkan.
Aku
berbalik dan mulai melangkah.
Melihat
tingkahku, Rudi menjitak kepalaku dari belakang.
“aw…”
aku meringis dan berbalik.
Kulihat
Rudi terbahak puas.
“sakiiit
tauuuu”, teriakku.
Melihat
responku, Rudi semakin terbahak.
Kutonjok
bahunya lebih kencang.
“aduuuh…sakiit”,
Rudi meringis, namun tetap ada tawa dalam ringisannya.
“rasain
lo, maen jitak-jitak aja. Sakit tauuu”, balasku.
“abisnya
ditanya sombong amat, amat aja kagak sombong”.
“lagian
bukan urusan looo”, jawabku.
“tau
gitu kagak gue sampein tu surat”
“yeee…”,
aku berbalik.
“hei
nona, bilang makasih kek sama gue. Kaga ade makasih-makasihnye udah gue sampein
juga tu surat”.
“iyee…iyeee….makasyeeeeeh”
“tunggu
dulu”, tahan Rudi.
“apa
lagi sih?”, aku berbalik menghadapnya lagi.
“masa
Cuma makasih doang”
“laaah…trus?”
“ya
traktir kek barang teh botol ato apa kek”, jawabnya.
“idiiih…males
amat”
“diih…awas
ya besok-besok kalo ada surat lagi buat elo kagak gue sampein. Tau rasa lo!!”
“lo
ngancem gue?”, tantangku.
“iya”
“emang
lo pikir manusia yang ada di asrama putra Cuma lo doang?”
“banyak
sih tapi belum tentu juga mereka mau nganterin surat buat lo”
“asal
lo tau aja, surat ntu udeh dua hari nginep di kotak surat, tau”. Lanjut Rudi.
“masa
sih?”, tanyaku.
“masa
sih?”, Rudi menirukan ucapanku dengan mimik mengejek.
“udeh
jangan kebanyakan mikir, cepetan gue haus nih udeh dua hari kagak minum
nyari-nyari elo buat ngasih ntu surat”. Lanjutnya.
“lebay”
“udeh
yuk ngantin, haus gue”.
Mau
tak mau, kuikuti langkah Rudi menuju kantin.
### ### ### ###
Sesampainya di kamar, kubuka
amplop berwarna putih dan kubaca. Owh ternyata dari kakaknya Fia. Tapi kok tertulis
nama M. Pram? bukannya nama kakaknya Fia itu Yoga? ah..aku masih malu untuk
bertanya pada Fia. Maksud dan tujuan surat tersebut tak lebih dari sekedar berkenalan.
Kubalas, dan mengalirlah surat-surat berikutnya.
Entah kenapa Allah gerakkan hatiku
untuk merespon suratmu, padahal jika diingat, saat itu aku sedang menjalin
hubungan dengan seseorang. Dari sekian
surat yang pernah kau kirimkan untukku, aku tahu jika kamu pernah menjalin
hubungan serius dengan seseorang bahkan kamu menjadikan dia sebagai sosok calon
istrimu kelak. Namun apa daya, takdir tidak mempersatukan kalian.
Kau bilang,
hingga pertemuan pertamamu denganku, membuatmu sulit menghapus ingatanmu
tentangku. Maka sejak saat itu tanpa aku tahu, kamu rajin bertanya tentang
siapa aku, bagaimana keseharianku dan segala macam tentangku pada adikmu.
Enam bulan berlalu setelah pertemuan
kita, Sesungguhnya aku lupa wajahmu. tapi aku juga malu jika harus minta foto
pada adikmu. Karena aku masih belum yakin dengan apa yang aku rasakan padamu.
Namun entah mengapa, semakin hari, ada getar lain setiap kali aku baca surat
darimu. Ada rasa lain, bahagia yang menyelusup tanpa mampu kubendung. rasa itu tambah berbunga manakala kudapati notifikasi sms darimu, walau
sekedar say halo. Oh..apa ini yang
namanya cinta? ah, aku tak berani menebak-nebak.
Puncaknya, ketika kamu mengabarkan
padaku melalui sms bahwa kamu mengundangku dalam acara wisuda. oh, aku gelagapan. Setelah kukumpulkan segenap kekuatan, kuberanikan diri bercerita pada Fia tentang surat, sms-sms kakaknya dan tentang
kelupaanku akan wajah kakaknya. Fia terkekeh,
“Fia sengaja loh teh selama ini
nggak nawarin teteh fotonya aa, karena Fia takut teteh nggak suka sama aa. Fia
juga pura-pura nggak tahu kalau teteh dapet surat dari aa, padahal aa ngabarin
sama Fia. Aa bilang, respon teteh masih biasa-biasa aja. Aa hawatir teteh nggak
nerima cinta aa”.
“Ih...Fia jahaaat, ngebiarin teteh
kebingungan”, kucubit lengannya. Fia meringis. sejurus kemudian Fia terbahak.
“Pasti teteh bingung ya antara M. Pram dan Yoga?
“ih, kok tahu sih?”
“Ya tau dong”, kilah Fia menang.
“Jadi gini teh, nama asli si aa itu Muhammad Pramayoga,
panggilannya Yoga”, jelas Fia.
"sama seperti namaku yang aslinya Siti Fathiya, panggilanku Fia”.
“Nih fotonya teh, biar teteh nggak
lupa lagi. Minggu depan sebelum acara wisuda rencananya si aa mau dateng ke
sini nemuin teteh. Sok pandangin fotonya. Jangan salah orang ya?” Goda Fia.
Dengan malu-mali uterima foto Yoga dari Fia. Aaakh...pipiku
sepertinya sudah mulai seperti udang rebus deh...
### ### ### ###
Setelah ijab kabul dilangitkan, kuabadikan panggilan sayangku
untuknya, Pram.
Ramadhan,
1438 H
No comments:
Post a Comment